Simak bagaimana kronologi aksi damai yang berujung dengan kericuhan itu di bawah ini.
- Tim WowKeren
- Sabtu, 05 November 2016 - 12:03 WIB
WowKeren - Aksi damai ribuan anggota ormas Islam dan masyarakat yang ingin kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) diproses secara hukum, awalnya berjalan dengan sangat damai, Jumat, 4 November. Namun aksi damai itu menjadi ricuh karena provokasi beberapa pihak.
Sekitar pukul 16.06 WIB, wakil dari pendemo Gerakan Nasional Pembela Fatwa-MUI (GNPF-MUI) masuk ke Istana. Diantara wakil pendemo GNPF-MUI itu tampak KH Cholil Ridwan dan Habib Athos Alatas. Wakil delegasi itu juga didampingi oleh puluhan pendemo. Para demonstran menolak karena hanya ditemui Menko Polhukam Wiranto yang ditunjuk sebagai perwakilan pemerintah karena Presiden sedang tidak berada di Istana. Mereka akhirnya meninggalkan Istana Merdeka.
Pukul 16.45 WIB, perwakilan aksi berorasi di depan Istana Kepresidenan. Beberapa di antaranya adalah Fahri Hamzah, Fadli Zon, Ahmad Dhani, dan Rhoma Irama. Baru sekitar pukul 17.40 WIB aksi membakar ban dilakukan di depan Kantor Panglima TNI di Jl Medan Merdeka Barat.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menemui perwakilan massa demo pada pukul 17.45 WIB. Pertemuan digelar secara tertutup di Kantor Wapres. Usai pertemuan pukul 18.20 WIB, JK menegaskan kasus Ahok harus diselesaikan dalam dua pekan secara tegas. Perwakilan demonstran Bachtiar Nasir bisa menerima penjelasan JK tersebut.

Sekitar pukul 18.57 WIB terjadi aksi lempar botol air mineral dan batu bata dari demonstran beratribut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke massa FPI di Jl Medan Merdeka Barat. Massa FPI meminta tenang namun masih ada lemparan botol air mineral dari massa beratribut HMI. Pukul 19.10 WIB, massa masih bertahan di depan Istana Negara dan mulai mendorong barikade polisi bertameng. Aksi ini membuat suasana menjadi ricuh. Mereka terus menyerang polisi bertameng yang membuat barikade. Sebagian massa ada yang menendang ada juga yang memukul tameng dengan bambu.
Pukul 19.40 WIB, polisi menembakkan gas air mata sambil berjalan ke arah Patung Kuda agar demonstran mundur. Kapolda M Iriawan terlihat mendatangi lokasi. Personel polisi langsung memberikan M Iriawan rompi dan helm. Kapolda memakai atribut lengkap karena di lokasi terjadi lemparan batu, bambu dan beberapa benda lainnya.
Pukul 19.58 WIB, terdengar suara letupan tembakan gas air mata. Polisi mulai menembakkan air dengan kendaraan taktis water cannon. Tembakan dilakukan untuk menghalau para pendemo yang mulai mendekati Istana. Dua truk polisi terbakar di depan Istana Kepresidenan. Truk tersebut bertuliskan polisi dan diketahui milik satuan Brimob Polda Metro Jaya. Polisi berusaha membubarkan massa, namun massa melawan. Massa bahkan membalas tembakan gas air mata polisi tersebut dengan lemparan batu dan potongan bambu. Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menenangkan massa.
Pukul 20.50 WIB, Menko Polhukam Wiranto keluar menemui massa pendemo. Dia sempat terhalau gas air mata sehingga batal menemui Habib Rizieq. Dia meminta massa bubar. Di baju putih yang dikenakan Wiranto, nampak ada darah yang masih basah. Baru mulai pukul 21.00 WIB situasi di depan istana mulai kondusif dan sebagian massa bergerak ke depan gedung DPR.
(wk/)