Berikut nama-nama 'maha guru' yang digunakan Dimas Kanjeng untuk memperdaya para pengikutnya.
- Tim WowKeren
- Senin, 07 November 2016 - 07:53 WIB
WowKeren - Pemeriksaan terhadap kasus penipuan yang dilakukan Dimas Kanjeng Taat Pribadi kini masih diselidiki oleh pihak kepolisian. Setelah menangkap seorang warga keturunan India SO bernama Ramanathan alias Vijay, Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur kembali mendapat temuan baru.
Polisi berhasil menangkap tujuh "maha guru" yang direkrut oleh Vijay. "Tersangka V (Vijay) dibawa penyidik ke Jakarta untuk menunjukkan alamat rumah mereka yang berperan 'maha guru' tersebut," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim, Komisaris Besar Polisi RP Argo Yuwono, pada Minggu, (6/11).
Polisi pun mengungkap nama-nama tujuh "maha guru" tersebut. Diantaranya yaitu Ratim Alias Abah Abdurrohman, Abdul Karim alias Abah Sulaiman Agung, Murjang alias Abah Naga Sosro, Marno alias Abah Kholil, Acep alias Abah Kalijogo, Sadeli Alias Entong dan Sutarno alias Abah Sutarto.
Berdasarkan sejumlah keterangan, ternyata para "maha guru" ini memiliki profil dan pekerjaan yang jauh dari dugaan. Profesi mereka juga bermacam-macam, dari karyawan swasta, buruh lepas, pengangguran, bahkan ada yang berprofesi pengemis dan gelandangan.
"Tersangka V (Vijay) yang merekrut mereka atas perintah tersangka TP (Taat Pribadi)," tambah Argo. Para "maha guru" ini direkrut untuk meyakinkan para pengikut. Ketujuh pria itu rata-rata berusia renta dan berjanggut putih. Mereka juga diberikan pakaian layaknya guru spiritual dan duduk di kursi besar saat dihadirkan dalam pertemuan antara pengikut padepokan Dimas Kanjeng.
"Kepada para korban, mereka mengaku sebagai maha gurunya tersangka TP," jelas Argo. "Tersangka V ini berperan seperti EO (event organizer) untuk pertemuan para pengikut Padepokan Dimas Kanjeng di Jakarta. V mendapat bayaran dari TP yang ditransfer oleh sultan agung inisial S kurang lebih Rp 2 miliar. V juga yang membayar para 'maha guru' antara Rp 2 juta sampai Rp 15 juta."
Terakhir kali pertemuan dilakukan pada 14-19 Maret 2016 lalu dengan memesan 155 kamar di Hotel Merlynn Park Jakarta. Ratusan kamar itu dipakai menginap para pengikut Dimas Kanjeng yang akan mengikuti kegiatan bersama.
(wk/)