Simak 7 fakta penting dari pelantun hits dunia 'A Shoulder To Cry On' di bawah ini.
- Tim WowKeren
- Senin, 06 Maret 2017 - 09:15 WIB
WowKeren - Kabar duka kematian musisi dunia Tommy Page membuat masyarakat dunia sangat terkejut. Dikenal memiliki kepribadian kalem, tidak ada yang menyangka jika pelantun hits "A Shoulder To Cry On" ini akhirnya harus mengakhiri hidup dengan cara tidak wajar. Meninggal dunia di usia 46 pada 3 Maret lalu, fans kehilangan salah satu sosok pemusik dunia yang handal dalam menciptakan lagu-lagu balada romantis. Dibalik kematian Tommy, ada beberapa fakta menarik yang perlu diketahui oleh para penggemar.
- Tommy Page terlahir dengan nama Thomas Alden Page di New Jersey pada tahun 1970. Dia mulai bermain piano secara profesional di usia 8 tahun. Tommy banyak disebut memiliki kemiripan dengan sosok Elvis Presley, karena setiap penampilannya selalu membuat para wanita menjerit histeris dengan tatapan mata sendunya yang tajam. Lagu hits yang melejitkan namanya di tahun 1988, "A Shoulder To Cry On" dinyanyikan saat Tommy masih berusia 18 tahun. Lagu ini sekaligus mengantarkan Tommy masuk dalam jajaran penyanyi remaja populer dunia. Dua tahun kemudian, lagu "I'll Be Your Everything" dari album studio keduanya, "Paintings In My Mind" langsung menjadi nomer 1 di chart Hot 100 Billboard.
- Sempat dikenal sebagai penyanyi "one-hit wonder" di Amerika, tapi popularitas Tommy di Asia semakin lebih moncer. Tommy lebih banyak mengadakan konser di Asia pada tahun 1990 dan melakukan duet kolaborasi dengan artis lokal. Lagu "I'm Always Dreaming Of You" yang dinyanyikannya bersama musisi Hongkong, Sally Yeh, langsung melejit di tahun 1992. Lagu duet Tommy dengan penyanyi Malaysia, Amy Mastura yang berjudul "The Best Part" juga populer.
- Bagi Tommy, Singapura termasuk salah satu negara penting untuknya. 7 Februari 2015, Tommy mengadakan konser "Retrolicious 2015" di Fort Canning. "Singapura adalah tempat spesial untukku, karena negara ini termasuk salah satu wilayah yang ikut mengembangkan musikku," kata Tommy dalam sebuah wawancaranya. Saat menggelar konser di Singapura itu, Tommy tampil bersama kuartet R&B, Color Me Badd dan grup pemenang Grammy, All-4-One.
- Tommy mengakui, kedua lagu di awal karirnya itu merupakan karya terbaiknya. "Aku tahu ada beberapa artis yang lelah tampil membawakan lagu yang identik dengannya, tapi aku bukan salah satu dari mereka," kata Tommy di sebuah wawancara tahun 2015. "Kedua lagu itu merupakan berkah yang pernah terjadi untukku. Aku selalu merasakan hal spesial setiap kali menyanyikannya."
- Tahun 1990, Tommy kembali ke bangku sekolah dan lulus dari New York University Stern School of Business pada tahun 1997. Saat melanjutkan studinya itu, Tommy bekerja di balik layar di industri musik. Tommy menghabiskan hampir 2 dekade bekerja di Warner Bros. Records. Dia juga menjabat sebagai vice-president di The Village Voice.
- Tommy menjadi mentor bagi banyak penyanyi. Dia berjasa membentuk karir musisi terkenal dunia lainnya, seperti Josh Groban, Michael Buble, Alanis Morissette dan Green Day.
- Sebelum berita kematiannya mengejutkan dunia, Tommy sempat mengunggah status baru di akun resmi Twitternya. Dari beberapa postingan tersebut, Tommy diketahui sedang mengerjakan musik baru.