Ini solusi yang ditawarkan CEO Telegram untuk mengatasi propaganda terorisme yang marak di media sosial.
- Tim WowKeren
- Senin, 17 Juli 2017 - 10:21 WIB
WowKeren - Wacana pemblokiran Telegram di Indonesia tak pelak menjadi perhatian CEO, Pavel Durov. Melalui pernyataan yang dimuat dalam channelnya Durov mengaku menyesal dan meminta maaf lantaran terlambat merespon surat dari Kemenkominfo.
Seperti diketahui, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara sebelumnya mengungkap jika pihaknya telah menyurati Telegram terkait daftar saluran publik terkait konten terorisme. Namun mereka tidak menjawab sehingga membuat Menkominfo memutuskan untuk memblokirnya.
"Saya tidak menyadari permintaan tersebut. Hal ini rupanya menyebabkan miskomunikasi dengan pihak Kementerian. Demi memperbaiki situasi kami akan menerapkan tiga solusi berikut," ujarnya.
Pertama, pihak Telegram mengaku kini telah memblokir semua saluran publik terkait terorisme yang diajukan oleh Kemenkominfo. Kedua, Durov juga mengirimkan email untuk membuka komunikasi secara langsung untuk mengatasi dan mengidentifikasi konten terorisme di masa mendatang. Sedangkan yang ketiga adalah dibentuknya tim moderator.
"Ketiga, kami akan membentuk tim moderator yang memiliki pengetahuan dan budaya Indonesia untuk memproses laporan konten terkait terorisme dengan cepat dan akurat," imbuhnya.
Durov sendiri mengaku sangat menyayangkan pemblokiran tersebut lantaran pengguna Telegram di Indonesia sendiri jumlahnya telah mencapai jutaan. Dengan menawarkan tiga solusi tersebut, ia berharap akan ada respon positif dari Kemenkominfo Indonesia.
"Saya yakin kita bisa menghabisi propaganda teroris dengan efisien tanpa mengganggu jutaan pengguna Telegram di Indonesia. Saya akan terus memperbarui saluran ini tentang perkembangan Telegram di Indonesia dan secara global," pungkasnya.
(wk/)