Shawol sontak turut berterima kasih atas pandangan yang diutarakan dosen UGM tersebut.
- Tim WowKeren
- Kamis, 21 Desember 2017 - 13:54 WIB
WowKeren - Duka masih menyelimuti para penggemar SHINee atas kematian Jonghyun. Tak terkecuali para Shawol (sebutan fans SHINee) Indonesia. Mereka masih tidak percaya akan kepergian Jonghyun yang tidak terduga.
Namun, kesedihan para Shawol dianggap terlalu berlebihan oleh netter non K-Pop. Shawol Indonesia dinilai terlalu bersedih atas kematian orang yang bahkan tidak dikenal secara langsung. Tak sedikit netter Indonesia yang menghina Shawol dengan sebutan "alay".
Peristiwa ini rupanya mencuri perhatian seorang dosen Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada, I Made Andi Arsana. Rupanya, putri dari dosen UGM tersebut adalah penggemar dari Jonghyun SHINee. I Made Andi Arsana bahkan turut mengucapkan perasaan duka cita di percakapan grup Whatsapp keluarga.
"Lita, turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian Jonghyun," tulis I Made Andi Arsana. Putrinya pun membalas dengan ucapan terima kasih dan menjelaskan bahwa kematian Jonghyun dikarenakan bunuh diri.
I Made Andi Arsana yang mengetahui penyebab kematian Jonghyun pun lalu menjelaskan bahwa depresi yang dialami Jonghyun bisa menjangkiti siapa saja. Ia juga dengan sabar menjelaskan pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini.
"Ok. Pelajaran untuk kita semua," tulis I Made Andi Arsana. "Selalu ada sisi gelap dari setiap orang tidak peduli sepopuler dan sekaya apapun mereka, semoga arwahnya tenang disana."
Bukti percakapan dengan putrinya tersebut ia unggah di media sosial Instagram. Dosen UGM ini juga memberi pandangan tentang dunia K-Pop yang sedang digandrungi anak-anak muda zaman sekarang.
"Perspektif," tulis I Made Andi Arsana di bagian keterangan foto. "Inspirasi adalah soal keputusan pengamat bukan obyek yang diamati. Bagi kita mungkin biasa saja atau bahkan alay, bagi orang lain mungkin itu inspiratif.
I Made Andi Arsana menganggap fenomena ini sama saja dengan anak-anak muda zaman 80/90-an dulu. Ketika Kurt Cobain meninggal dunia juga banyak penggemar di Indonesia kala itu yang bersedih.
"Percayalah, kalau generasi 80/90-an merasa keren sekali saat mengidolakan The Rolling Stones, The Beatles, Guns N' Roses, dan kawan-kawan, kids zaman now merasakan sensasi yang sama ketika menikmati K-Pop," tulis I Made Andi Arsana. "Ketika generasi kami dulu histeris berduka menyaksikan Kurt Cobain bunuh diri, maka Jonghyun memenuhi ruang hati para kids zaman now dengan duka cita mendalam saat dia meninggal dunia."
Dosen UGM ini juga menjelaskan mengenai perbedaan antara anak-anak zaman tahun 80/90-an dengan zaman sekarang. Namun, ia mengungkapkan bahwa semua itu adalah soal sudut pandang seseorang.
"Ketika kami, para generasi 80/90-an merasa kids zaman now suram masa depannya karena mereka tidak bisa cuci piring, nyapu, dan menyapa tamu saat kumpul keluarga," tulis I Made Andi Arsana. "Kami mungkin lupa bahwa mereka sudah memenangkan lomba menulis Bahasa Inggris di Uni Eropa, bahkan pada usia ketika kami dulu belum mulai belajar Bahasa Inggris. Semua itu adalah soal perspektif."
Para penggemar K-Pop memuji I Made Andi Arsana yang memberikan pandangan bijaknya mengenai peristiwa kematian Jonghyun. Mereka juga turut berterima kasih atas pandangan yang diutarakan dosen UGM tersebut.
"Terima kasih telah mengerti perasaan kami. Saya bangga masih ada orang seperti bapak," tulis akun @an*****ciska. "Tulisannya bagus, Pak," imbuh akun @d****_tanjung. "Andai semua orang punya pemikiran yang sama seperti bapak," tambah akun @o***erna.
(wk/)