Setahun Berlalu, Ariana Grande Masih Trauma dengan Insiden Manchester Arena
Getty Images/Neilson Barnard
Selebriti

Ariana menyebut insiden Manchester Arena sebagai salah satu contoh krisis kemanusiaan terburuk.

WowKeren - Peristiwa pemboman di Manchester Arena pada Mei 2017 lalu masih meninggalkan luka yang mendalam bagi Ariana Grande. Baru-baru ini, pelantun "Break Free" ini mengaku bahwa dirinya masih berjuang untuk menghilangkan trauma akibat serangan bom mematikan dalam tur "Dangerous Woman" yang ia gelar.

Kala itu, seorang teroris meledakkan perangkat buatan sendiri di Manchester Arena ketika para penggemar meninggalkan konser Ariana pada 22 Mei lalu. Insiden ini menewaskan 23 orang, termasuk sang pelaku.

Ariana mengaku bahwa bayang-bayang akan kengerian insiden itu selalu muncul dalam pikirannya setiap hari. Musisi asal Florida ini juga menyebut bahwa insiden Manchester Arena adalah salah satu contoh yang terburuk dari krisis kemanusiaan.

"Ada begitu banyak orang yang telah menderita kehilangan dan rasa sakit seperti itu. Kenangan ini akan berlangsung selamanya," ungkap Ariana dalam sesi wawancara dengan majalah Time.

Ariana mengaku bahwa ia masih merasa menyesal karena tidak dapat melakukan apapun kala itu. "Musik seharusnya menjadi hal yang paling aman di dunia. Aku pikir itulah mengapa peristiwa itu masih begitu berat di hatiku setiap harinya. Aku berharap ada lebih banyak yang bisa kuperbaiki," lanjut Ariana.


Ariana sendiri diketahui menghentikan tur dunianya segera setelah serangan bom tersebut. Kemudian tak lama setelahnya ia menggelar konser "One Love Manchester" untuk membantu para korban dari insiden mengerikan itu.

Konser amal tersebut berubah menjadi ajang malam solidaritas dan dihadiri oleh sekitar 50 ribu penggemar. Sederet musisi ternama seperti Miley Cyrus, Black Eyed Peas, Katy Perry, Coldplay, Robbie Williams, Liam Gallagher dan Justin Bieber juga turut meramaikan konser tersebut.

Meskipun penyanyi berusia 24 tahun tersebut sukses menggelar konser amal sebagai bentuk kepeduliannya, ia mengaku mengalami guncangan psikologis pada dirinya. Namun ia merasa harus segera bangkit dan menunjukkan semangat melawan terorisme. "Itu sebabnya aku melakukan yang terbaik seperti yang aku lakukan," tambah Ariana.

Ariana sendiri menyalurkan rasa sakitnya melalui single terbarunya, "No Tears Left to Cry" yang baru saja dirilis pada 20 April lalu. Bahkan mantan kekasih Mac Miller ini menyebut single terbarunya adalah sebuah anthem pemberdayaan.

"Ketika aku mulai lebih memperhatikan diri sendiri, kemudian datang keseimbangan, dan kebebasan, dan sukacita," imbuh Ariana. "Semua perasaan tersebut dituangkan ke dalam musik."

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait