KNKT beber tidak ada kerusakan mesin pada pesawat Lion Air JT 610, lantas apa penyebab jatuhnya pesawat nahas tersebut?
- Silmi Amalia Fidareni
- Jumat, 23 November 2018 - 09:56 WIB
WowKeren - Peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP pada 29 Oktober lalu masih menyisakan duka yang mendalam. Pesawat nahas tersebut dipastikan jatuh di perairan Tanjung Karawang setelah 13 menit mengudara. Hingga saat ini, penyebab pasti jatuhnya pesawat yang membawa total 189 penumpang tersebut masih terus diselidiki.
Pencarian akan kotak hitam yang dilakukan tim Basarnas beberapa waktu lalu telah berhasil menemukan salah satu bagian dari black box alias kotak hitam. Bagian yang ditemukan tersebut adalah Flight Data Recorder atau FDR. Sementara itu, bagian yang lain, yakni Cockpit Voice Recorder (CVR) masih belum ditemukan.
Meski masih menemukan FDR saja, tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT telah melakukan penyelidikan mengenai kemungkinan penyebab jatuhnya pesawat. Dari hasil penyelidikan diungkapkan bahwa tidak terjadi kerusakan atau masalah pada pesawat Lion Air JT 610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang itu.
Kesimpulan ini diungkap usai KNKT melakukan analisa atas parameter mesin yang direkam oleh FDR. "Kami bisa simpulkan bahwa mesin tidak menjadi kendala dalam penerbangan ini," ujar Kepala Sub Komite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo, pada Kamis (22/11) kemarin.
Kendati tak ada masalah pada mesin, Nurcahyo mengatakan bahwa ada perbedaan penunjuk kecepatan antara pilot dan co-pilot sejak awal pesawat bergerak hingga lepas landas. "Indikator yang kanan lebih tinggi daripada yang kiri. Kemudian pesawat mulai bergerak, kecepatan mulai naik, kemudian kecepatan berpisah. Jadi antara kiri dan kanan tidak sama," sambung Nurcahyo.
Nurcahyo juga mengatakan dugaan adanya masalah pada kemampuan daya angkat pesawat yang ditandai dengan kemudi pilot yang bergetar atau stick shaker. Saat pesawat berada di ketinggian 5000 kaki, Automatic Trim Down atau Manuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) akan merepon dengan menggerakkan hidung pesawat untuk turun.
Akan tetapi, pergerakan otomatis MCAS ini kemudian dilawan oleh pilot hingga akhir penerbangan. "Tercatat di akhir penerbangan Automatic Trimnya bertambah namun trim dari pilotnya durasinya semakin pendek. Akhirnya jumlah trimnya mengecil, jumlah beban di kemudi makin berat dan pesawat turun," jelas Nurcahyo.
Nurcahyo juga menyatakan bahwa masalah yang sama juga dialami saat pesawat itu digunakan untuk penerbangan Denpasar-Jakarta. Beruntung, pada penerbangan Denpasar-Jakarta tersebut, pilot berhasil melakukan tindakan untuk menghentikan MCAS hingga pesawat mendarat di Jakarta.
(wk/silm)