Bikin Bangga, Kepala Humas BNPB Sutopo Kaget Berita Dirinya Dimuat di The New York Times
Twitter/Sutopo_PN
Nasional

Sutopo dinilai berdedikasi tetap mengabarkan bencana yang terjadi di Indonesia meski tengah menderita kanker paru-paru.

WowKeren - Bencana alam yang silih berganti datang di Indonesia tentu membuat sedih banyak pihak. Beberapa waktu lalu, gempa dan juga tsunami yang menerjang Indonesia juga turut menjadi perhatian dunia. Di balik semua itu, terdapat sesosok yang setia memberikan kabar terbaru mengenai bencana alam yang menerpa wilayah Indonesia.

Ia adalah Sutopo Purwo Nugroho. Sutopo saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Sebelumnya, ia bekerja di pemerintahan kemudian ditetapkan sebagai Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB pada tahun 2010.

Menilik media sosialnya, Sutopo dikenal sangat aktif memberikan update terkini mengenai informasi bencana yang ada di Indonesia. Sutopo juga menjadi pribadi yang senantiasa melawan kabar-kabar hoaks yang banyak beredar terkait bencana.

Berkat dedikasi dan rasa kemanusiannya yang luar biasa tersebut, harian Amerika, The New York Times, terlihat memuat profil Sutopo dalam tulisannya. Dalam judul artikel tersebut, dedikasi Sutopo dikaitkan dengan penyakit yang tengah dideritanya, yakni kanker paru-paru. "He Helped Indonesia Through a ‘Year of Disasters,’ While Facing His Own," demikian judul artikel yang memuat profil Sutopo dalam harian The New York Times.

Melihat profil dirinya dimuat di salah satu harian terbesar di Amerika tersebut, Sutopo merasa kaget. Dalam Instagram pribadinya, Sutopo mengatakan bahwa ada seorang wartawan bernama Richard C. Paddock, wartawan New York Times, yang jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menemuinya.

View this post on Instagram

Wajah Sutopo Ada Di Harian New York Times Tidak menyangka orang Boyolali, foto dan beritanya dimuat di New York Times. Pak Richard C. Paddock, wartawan New York Times, jauh-jauh mereka datang ke Indonesia untuk menemui saya. Meminta wawancara khusus dan foto. Wawancara didampingi seorang kontributor Indonesia dan fotografer pada Desember 2018. Saat saya tanya, "Apa yang menarik dari saya sehingga Pak Paddock datang kesini?". Dia mengatakan, "Apa yang kamu lakukan sangat menarik diberitakan. Dari sisi kemanusiaan sangat menarik. Indonesia dia ditimpa banyak bencana yang menimbulkan ribuan korban jiwa. Di saat bersamaan, Pak Topo yang sakit kanker paru stadium 4b. Sakit kritis yang pasti menyakitkan. Tapi terus menerus memberikan informasi bencana tanpa menyerah dan mengenal lelah. Ini sangat menginspirasi. Media internasional juga banyak memberitakanmu. Merujuk semua informasimu. Penjelasan yang kamu berikan cepat, akurat dan menenangkan banyak pihak." "Umumnya survivor kanker, apalagi sudah level kritis, dia banyak di rumah atau di rumah sakit. Tapi kamu masih bekerja melayani media dan publik. Saya follower twitter kamu. Sangat cepat sekali kamu memberikan informasi bencana. Di USA tidak secepat itu. Media sulit mendapatkan data dan informasi yang cepat saat ada bencana di Amerika. Twitter kamu juga ada sering memuat hal-hal yang lucu dan tentang kehidupan, kesehatan, hoax, dan lainnya. Kita orang Amerika banyak yang simpati, respek dan memberikan apresiasi apa yang Pak Topo lakukan. Itulah alasan saya datang kesini," tambah Richard C. Paddock wartawan senior New York Times. Saya sendiri tidak menyangka wawancara dimuat pada The Saturday Profile New York Times 28/12/2018. Biasanya yang dimuat disitu adalah tokoh atau orang yang kaliber super top. Sesungguhnya apa yang saya lakukan ini adalah biasa. Sebagai jubir BNPB saya harus terus menerus memberikan informasi bencana kepada media. Bencana tak mengenal waktu kapan kejadiannya, saya pun juga harus begitu. Berita lengkapnya ada di : https://www.nytimes.com/2018/12/28/world/asia/indonesia-natural-disasters-sutopo.html


A post shared by Sutopo Purwo Nugroho (@sutopopurwo) on

Richard lantas menyatakan bahwa apa yang dilakukan Sutopo dalam menyampaikan informasi terkini perihal bencana sangatlah menarik dari sisi kemanusiaan. Padahal di saat yang bersamaan, Sutopo tengah menderita sakit kanker paru-paru stadium 4b yang pastinya menyakitkan. Mengesampingkan rasa sakitnya, Sutopo tetap berdedikasi memberikan informasi yang cepat dan akurat perihal bencana kepada masyarakat Indonesia.

Menariknya, Richard mengatakan bahwa di Amerika, penyampaian informasi bencana tak secepat yang dilakukan oleh Sutopo. "Di USA tidak secepat itu. Media sulit mendapatkan data dan informasi yang cepat saat ada bencana di Amerika. Twitter kamu juga ada sering memuat hal-hal yang lucu dan tentang kehidupan, kesehatan, hoax, dan lainnya. Kita orang Amerika banyak yang simpati, respek dan memberikan apresiasi apa yang Pak Topo lakukan. Itulah alasan saya datang kesini," tulis Sutopo dalam unggahannya mengenai pendapat Richard.

"Saya sendiri tidak menyangka wawancara dimuat pada The Saturday Profile New York Times 28/12/2018," tulis Sutopo dalam unggahannya. "Biasanya yang dimuat disitu adalah tokoh atau orang yang kaliber super top."

Warganetpun merasa bangga dengan pencapaian yang diraih oleh Sutopo ini. Apalagi, ia juga menjadi wakil dari Indonesia yang mengharumkan nama negara di mata dunia.

"Semangat pa...semoga Allah selalu memberikan keshabaran & kekuatan.....dan terus menjadi inspirasi bagi kami....," tulis akun @i***1. "Keren Pak Topo," sahut akun @d***ar. "Terharu dan sangat-sangat bangga . selalu semangat ya pak," tambah akun @nu***7__.

(wk/silm)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!