SBY Ternyata Kritik Kampanye Akbar Prabowo, Singgung Pemimpin Rapuh Tak Pantas Jadi Presiden
Instagram/prabowo
Nasional
Kampanye Akbar Jokowi Prabowo

Hal ini diungkapkan SBY lewat surat yang ditujukan kepada tiga petinggi Partai Demokrat, yakni Ketua Wanhor Amir Syamsuddin, Waketum Syarief Hasan, dan Sekjen Hinca Panjaitan.

WowKeren - Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, ternyata sempat memberikan kritik terkait dengan kampanye akbar paslon yang didukungnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hal ini diungkapkan SBY lewat surat yang ditujukan kepada tiga petinggi Partai Demokrat, yakni Ketua Wanhor PD Amir Syamsuddin, Waketum PD Syarief Hasan, dan Sekjen PD Hinca Panjaitan.

Dalam suratnya, SBY membahas tentang ketidaklaziman kampanye akbar Prabowo-Sandi. Menurut SBY, kampanye akbar tersebut dinilai tidak inklusif alias eksklusif.


"Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif," tulis SBY dalam suratnya dilansir detikcom pada Senin (8/4). "Melalui sejumlah unsur pimpinan Partai Demokrat, saya meminta konfirmasi apakah berita yang saya dengar itu benar. Malam hari ini, saya mendapat kepastian bahwa informasi yang didapat dari pihak lingkaran dalam Bapak Prabowo, berita yang saya dengar itu mengandung kebenaran."

Surat tersebut dikirimkan oleh SBY usai dirinya mendapatkan kabar perihal perancangan, urutan acara, serta tampilan fisik kampanye akbar Prabowo-Sandi pada Sabtu (6/8). SBY pun lantas menginstruksikan kepada tiga petingginya untuk memberikan masukan kepada Prabowo.

"Penyelenggaraan kampanye nasional (di mana Partai Demokrat menjadi bagian di dalamnya) tetap dan senantiasa mencerminkan inclusiveness, dengan sasanti 'Indonesia Untuk Semua' juga mencerminkan kebhinekaan atau kemajemukan," tegas SBY. "Cegah demonstrasi apalagi 'show of force' identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrem."

Menurut SBY, pemimpin yang gemar mengedepankan identitasnya sendiri akan menjadi pemimpin yang rapuh. Sehingga, pemimpin yang seperti itu tidak pantas menjadi pemimpin bangsa atau presiden.

"Sebaliknya, pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal 'kawan dan lawan' untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh," lanjut SBY. "Bahkan sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa. Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo."

Surat dari SBY tersebut telah dikonfirmasi oleh Ketua Divisi Hukum dan Advokasi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean. Menurut Ferdinand, surat dari SBY telah disampaikan, sehingga saran yang terkandung di dalamnya telah dilaksanakan pada kampanye akbar Prabowo-Sandi.

"Menyampaikan karena Pak SBY dapat laporan terkait dengan rundown acara bahwa seolah-olah cara itu terdesain seperti milik umat Islam saja, atau bahkan diidentikkan dengan khilafah ya," jelas Ferdinand dilansir CNNIndonesia.com, Senin. "Saran SBY pun diterima. Tadi (dalam kampanye akbar) ada dari pendeta dan berbagai agama."

You can share this post!

Related Posts
Loading...