Mahfud MD Sebut Tuduhan Curang ke KPU Merupakan 'Ritual' yang Akan Sasar MK
Nasional

Menurut Mahfud, isu dan tudingan kecurangan yang dtujukan pada KPU akan terus bergaung hingga hasil rekapitulasi penghitungan suara nasional diumumkan pada 22 Mei 2019 mendatang.

WowKeren - Isu kecurangan Pemilu yang ditujukan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) tengah marak berembus. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, lantas memprediksi bahwa tudingan tersebut nantinya akan bergulir hingga menyasar MK sendiri.

Menurut Mahfud, hal semacam itu merupakan sebuah "ritual" yang terjadi pada setiap pelaksanaan pemilihan. Isu dan tudingan kecurangan yang ditujukan pada KPU akan terus bergaung hingga hasil rekapitulasi penghitungan suara nasional diumumkan pada 22 Mei 2019.

"Tudingan selalu ada, ritualnya itu," tutur Mahfud di Kantor KPU RI dilansir suara.com pada Jumat (26/4). "KPU diserang terus sampai nanti (penetapan hasil suara)."

Setelah itu, serangan dan tudingan kecurangan tersebut nantinya akan menyasar MK. Menurut prediksi Mahfud, penanganan MK terkait sengketa hasil Pemilu akan diwarnai oleh tudingan dan serangan kecurangan.


"Nanti tanggal 23 Mei (setelah penetapan hasil rekapitulasi penghitungan suara nasional), serangan akan berbalik," jelas Mahfud. "Tadinya ke KPU jadi ke MK. Tuduhannya misalnya hakim MK disuap lah, dia berpihak sama ini lah."

Prediksi tersebut didasarkan Mahfud dari pengalaman pribadinya sebagai Ketua MK sekaligus hakim konstitusi pada periode 2008-2013. Dalam salah satu kasusnya, Mahfud bahkan sempat dituduh menerima suap sebesar Rp 4 miliar kala MK tengah menangani sidang sengketa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, pada 2011 lalu.

"Pengalaman saya bertahun-tahun begitu," jelas Mahfud. "Itu ritual politik. Lihat saja nanti."

Sebelumnya, Mahfud juga telah menjelaskan bahwa kesalahan input data KPU hanya terdapat di 101 tempat pemungutan suara (TPS). Ia juga memastikan bahwa tidak ada rekayasa terstruktur dalam input data KPU.

"Dari situ kekeliruan hanya ada 0,0004 persen. Berarti hanya ada 1 dalam 2.500 TPS. Hanya satu," jelas Mahfud. "Sangat tidak mungkin rekayasa terstruktur ber persen-persen. Ini cuma 1 per 2.500, tidak mungkin ada kesengajaan. Dan semua bisa lihat di Situng KPU mana yang benar."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait