Mahfud memberikan penjelasan mengenai istilah 'garis keras' yang digunakannya terkait basis pemenangan Prabowo-Sandi. Menurut mantan Ketua MK tersebut, istilah itu tidak bermakna negatif.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 30 April 2019 - 16:12 WIB
WowKeren - Pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, tentang basis pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di provinsi "garis keras" masih menjadi perdebatan. Mahfud pun lantas kembali memberikan klarifikasi dalam program "Kabar Petang" yang juga diunggah ke kanal YouTube tvOneNews pada Senin (29/4).
Dalam wawancara tersebut, Mahfud awalnya memberikan penjelasan mengenai hasil quick count yang dimenangkan oleh Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Kemudian, Mahfud menuturkan bahwa rekonsiliasi kedua kubu diperlukan untuk menghindari perpecahan berlatar belakang agama.
"Berdasarkan keyakinan itu (hasil quick count) maka saya mengatakan Pak Jokowi menang, tetapi supaya diingat harus rekonsiliasi, kenapa? Karena sebaran kemenangan Pak Jokowi itu ternyata di tempat-tempat yang kita kenal tidak terlalu panas secara agamis," jelas Mahfud. "Maka saya katakan, Pak Jokowi harus melihat bahwa Pak Prabowo itu menang di tempat-tempat yang dulunya, dulunya, itu menjadi daerah panas untuk keagamaan. Daerah yang garis keras dalam agama. Oleh sebab itu mereka harus dirangkul. Dirangkul dalam rangka apa? Bersatu. Agar tidak terjadi pembelahan berdasar agama."
Setelah itu, Mahfud memberikan penjelasan mengenai istilah "garis keras" yang digunakannya. Menurut Guru besar Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini, istilah tersebut tidak bermakna negatif. Mahfud bahkan mengaku bahwa dirinya juga orang garis keras, yakni orang yang memiliki prinsip kuat.
"Saya katakan garis keras, tapi di media sosial itu saya dibilang radikal. Bahwa di Aceh, di Sulawesi, di mana itu, radikal, ekstrem, enggak ada. Coba tadi Anda lihat? Enggak ada. Garis keras itu bagus, saya juga garis keras, tau ndak?" ungkap Mahfud. "Garis keras itu, sudah saya jelaskan, garis keras itu artinya artinya fanatik dan kesetiaan yang tinggi, tapi tidak radikal. Saya bilang Madura juga itu garis keras, bagus. Garis keras itu adalah orang yang punya prinsip, tidak mau didikte."
Mahfud pun menjelaskan bahwa istilah tersebut merupakan sebuah pujian. Sehingga dia merasa heran pada pihak-pihak yang menuntutnya untuk meminta maaf.
"Itu di dalam term politiknya kan ada dalam ilmu politik, beda dengan radikal. Terus saya dikatain, 'Pak Mahfud bilang garis keras, harus minta maaf'," ujar Mahfud. "Lho saya memuji atas prinsip Anda semua, seperti saya punya garis keras di bidang hukum, tapi di bidang politik saya garis moderat."
(wk/Bert)