Tenaga Ahli Kedeputian IV KSP Ali Mochtar Ngabalin menyoroti Jerry yang merupakan warga asing yang telah mendapat kewarganegaraan Indonesia. Namun, ia malah menuduh negara ini.
- Nur Islamiyah
- Rabu, 29 Mei 2019 - 10:43 WIB
WowKeren - Selasa (28/5) lalu, polisi menangkap seorang bernama Jerry Duane Gray lantaran diduga melakukan ujaran kebencian melalui media sosial YouTube. Jerry tertangkap setelah Subunit Cyber Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat melakukan patroli siber dan menemukan video tersebut.
Menanggapi hal ini, pihak Istana, Tenaga Ahli Kedeputian IV KSP Ali Mochtar Ngabalin meminta polisi untuk memeriksa Jerry secara ketat. "Jerry harus periksa dengan ketat," kata Ngabalin, Rabu (29/5) seperti yang dikutip dari Detik.
Ngabalin menyoroti Jerry yang merupakan warga asing yang telah mendapat kewarganegaraan Indonesia. Namun, ia malah menuduh negara ini.
Apalagi bisa melihat latar belakang Jerry, Ngabalin tidak mau begitu saja percaya mantan tentara Amerika Serikat tersebut menyebarkan ujaran kebencian karena terpengaruh berita bohong alias hoaks. Perlu diketahui bahwa Jerry merupakan mualaf yang kini sering menjadi penceramah.
"Bagaimana mungkin dia jadikan Indonesia ini sebagai negara pilihannya. Tapi dia tuduh Indonesia ini sebagai negara komunis? Kan sesuatu yang kontradiktif," ujar Ngabalin. "Sementara dia sebelumnya adalah seorang tentara di AS, punya kemampuan yang lebih hebat dari kemampuan orang di tempat tinggalnya di Tasik, kenapa juga dia tinggal di sana?"
"Menurut saya intelijen perlu periksa ini orang," lanjutnya. "Membahayakan betul negara. Harus dicek ini orang."
Sebelumnya, Jerry menyebut bahwa kondisi Indonesia saat ini sangat parah dalam sebuah video yang viral. Menurutnya, terlalu banyak kecurangan di rezim saat ini.
"Memang kondisi Indonesia saat ini sangat parah, terlalu banyak kecurangan sama rezim yang ada sekarang," kata Jerry. "Sudah jelas ada instruksi komunis dan lain-lain masuk ke Indonesia mau diambil negara ini untuk dia sendiri."
"Rakyat Indonesia bukan Muslim saja, kita semua harus bersatu, harus maju sampai negara ini kembali jujur lagi, sampai nama Presiden Republik Indonesia nama Prabowo, bukan nama yang sekarang," lanjutnya, "Yang sekarang sudah jujur tidak benar. Dia harus mundur dan juga harus kena hukum, dia tidak ikut konstitusi Indonesia. Dia enggak benar dan ini memang untuk Republik Indonesia, dia harus turun cepat, jangan sampai Oktober, terlalu lambat."
(wk/nris)