Sebelumnya, anggota TGUPP DKI Jakarta Marco Kusumawijaya membuat cuitan di Twitter yang dianggap menyerang Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini secara personal.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 02 Agustus 2019 - 14:34 WIB
WowKeren - Isu persoalan sampah di ibu kota ikut menyeret nama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ramai menjadi perbincangan. Beberapa waktu lalu, Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan ke Surabaya.
Kunjungan tersebut dalam rangka untuk studi banding pengelolaan sampai dari hulu sampai proses akhir yang diterapkan di Surabaya. Risma dinilai telah sangat baik dalam mengelola sampah di Kota Pahlawan. Tak ayal, Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Bestari Barus meminta Risma untuk menyelesaikan masalah sampah di ibu kota.
Sayangnya, tak semua orang suka dengan hal ini. Salah satunya anggota Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Jakarta, Marco Kusumawijaya. Lewat cuitan di Twitter, ia bahkan menyerang Risma secara personal.
Dalam cuitannya, ia menyebut alangkah bagus andai Risma mau menjadi Kepala Dinas Persampahan DKI Jakarta asalkan sudah beres dengan urusan anaknya. Pernyataan Marco dinilai menyinggung.
Pemkot Surabaya menyesalkan cuitan tersebut. "Yang jelas menyesalkan, apa yang di-tweet oleh Marco sudah menyerang personal itu, kita menyesalkan," kata Kepala Bagian (Kabag) Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota Surabaya, Muhammad Fikser dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (2/8).
Tak menutup kemungkinan, Pemkot Surabaya akan membawa cuitan tersebut ke ranah hukum. Fikser menyatakan bahwa saat ini pihaknya sedang mempelajari kajian hukum.
"Terkait dengan tweet itu selain kita menyesalkan, kita lagi mendiskusikan hal ini dengan bagian hukum," jelas Fikser. "Untuk kita lihat dari kajian hukumnya bagaimana nanti, kita lagi pelajari."
Ia menegaskan bahwa sama sekali tidak ada niatan dari Risma untuk mencampuri urusan sampah di Jakarta. Apa yang dijelaskan oleh Risma hanyalah dalam rangka menjawab pertanyaan DPRD Jakarta yang melakukan studi banding pengelolaan sampah.
"Jadi dari awal itu Bu Risma tidak ada urusannya mencampuri urusan apa yang di Jakarta," tegas Fikser. "Mereka datang belajar dan Ibu hanya menjelaskan tentang program yang telah dilakukan di Surabaya."
(wk/zodi)