Geger Video Luna Maya Soal Corona Tidak Ganas, Dokter Jantung Kritik Meremehkan
Instagram/agussantosoyang
Selebriti

Luna Maya sempat mengundang drh. Moh Indro Cahyono dan membahas tentang virus Corona. Namun obrolan Luna Maya dan dr Indro dikritik ahli spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Berlian, karena terkesan meremehkan bahaya Corona.

WowKeren - Luna Maya mengisi kesibukan dengan membuat vlog dan podcast via video call dengan sejumlah artis. Luna melakukan hal itu karena sedang vakum dari kegiatan outdoor demi menghindari Corona.

Salah satu vlog Luna menghadirkan drh. Moh Indro Cahyono. Dalam vlog, dan drh Indro membahas soal Corona.

"Biasanya memang ada komplikasi penyakit, ada gangguan pernapasan. Kemarin ada beberapa yang meninggal karena stroke, jantung, dan malah COVIDnya negatif," seru drh Indro. "Kalau dari sakit iya, mungkin saya pernah kena, mungkin akan alami demam, sesak napas, selama satu minggu. Tapi sesudah antibodi kita keluar untuk melawan virus ini, maka akan kebal dan antibodi dua minggu pasca infeksi itu paling tinggi, sehingga sebagian besar akan mengalami kesembuhan."

"Tapi COVID ini tidak seganas atau membunuh seperti yang ada di media. Hidup kita itu indah, banyak yang bisa kita lakukan selama kita masih bisa hidup yang tidak ditentukan dengan statistik," seru drh Indro. "Jadi sebenarnya kalau ada di berita yang meninggal karena Corona itu sebetulnya sudah komplikasi dengan penyakit lain ya, jadi bukan meninggal karena satu virus Corona itu ya?" tanya Luna yang dibenarkan oleh drh Indro.

Namun video itu menuai kritik dari dokter lain. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Berlian Idris alias Bili, langsung berkicau di Twitter dan mengoreksi vlog Luna bersama drh Indro itu.


Luna Maya

Sumber: Twitter

"Dear @LunaMaya26 & drh. Moh Indro Cahyono, penjelasan video ini salah & berpotensi membuat masyarakat meremehkan risiko tertular virus SARS-COV-2 yang menyebabkan COVID-19," kata dr Berlian. "Namun saya rasa tetap perlu diklarifikasi di lini masa Twitter karena menimbulkan polemik, dan banyak warga yg bertanya. Saya jabarkan kekeliruan tersebut satu persatu. Cmiiw dr. @dirgarambe, dr. @Gatut_P."

"1. 'Dari sebagian besar yg meninggal, belum pernah ada satupun yg meninggal hanya karena Covid'- Seperti namanya, severe acute respiratory syndrome, virus ini menyebabkan gangguan pernapasan akut berat akibat kerusakan pada paru, yg membuat gagal napas, bahkan kematian," seru Bili. "2. 'Kita sebaiknya tidak menghubungkan covid ini dengan kematian'...Penjelasan poin 1, COVID-19 ini menyebabkan kematian. Kalau tidak berhubungan dgn kematian, untuk apa dihitung jumlah korban yg meninggal? Hari ini (16 April) saja sdh ada total 496 orang yg meninggal di Indonesia."

Luna Maya

Sumber: Twitter

"'Kalau saya kena, mungkin demam/pilek/batuk/agak2 sesak napas selama seminggu'...Ini spt meremehkan spektrum gejala yg mgkn dialami, dari tdk bergejala sampai gagal napas. Mereka yg sembuh banyak yg melaporkan sesak yg menyiksa, dgn kemungkinan kerusakan paru permanen," ujar Bili. "'Tapi sesudah antibodi kita keluar, maka kita akan kebal'....Terbentuknya antibodi tdk menjamin kekebalan mutlak dari re-infeksi, ada yg dilaporkan kembali positif. Selain itu, makin banyak pasien sehat berusia muda yg meninggal karena reaksi sistem imun yg berlebihan. 'Dua minggu pasca infeksi antibodi paling tinggi, sehingga sebagian besar orang mengalami kesembuhan'. Bila memang sebagian besar sembuh, kenapa hari ini, 16/4, dilaporkan angka kesembuhan 'hanya' 9.9% dari keseluruhan kasus terkonfirmasi?"

"'Jadi kalau Covid ini membuat sakit, iya, tapi tak seganas/tdk membunuh spt yg ada di media'. Ini jelas salah (lihat poin 1& 2) & sangat berpotensi membuat masyarakat abai. Kalaupun tidak meninggal, terjangkit COVID-19 menyakitkan. Kalau tdk berbahaya, kenapa ada PSBB?" lanjut Bili. "'Hidup kita bukan angka, tidak ditentukan dgn statistik'. Betul, karena itu satu nyawapun sangat berharga, kita harus cegah agar tidak tertular. Sakit COVID-19 itu tidak enak, apalagi kalau sampai meninggal. Luna menguatkan lagi bahwa yg meninggal adalah karena komplikasi, bukan karena virus corona sendiri, yg diaminkan oleh drh. Indro. Atas dasar itu Luna menyimpulkan agar kita jgn panik. Betul kita tak boleh panik, tapi juga tdk boleh abai. Dan jangan atas dasar yg salah."

(wk/riaw)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait