Pandemi virus Corona sudah menghantui kehidupan manusia dari berbagai penjuru dunia selama setidaknya 4 bulan belakangan, namun vaksin penangkalnya sampai sekarang masih belum ditemukan.
- Elvariza Opita
- Senin, 20 April 2020 - 10:58 WIB
WowKeren - Sejauh ini para peneliti terus berusaha keras untuk mengembangkan vaksin penangkal serta obat untuk menyembuhkan COVID-19. Tetapi belum lama ini seorang guru besar dari London's Imperial College terang-terangan menyampaikan rasa pesimisnya soal virus Corona.
David Nabarro, sang guru besar, yang juga dikenal perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di bidang COVID-19, menyebut ancaman virus Corona dapat sangat mempengaruhi masa depan. Apalagi sampai sekarang tak ada jaminan vaksin penangkal COVID-19 bisa dikembangkan.
"Dalam beberapa kasus, sejumlah virus memang dikenal sulit, sangat sulit untuk dicarikan vaksin penangkalnya (vaksin sulit dikembangkan)," terang Nabarro, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (20/4). Kondisi ini pun diakui Nabarro membuatnya meyakini ancaman wabah Corona mungkin akan terus dirasakan di masa depan.
"Sehingga untuk prediksi masa depan, kami akan mencari cara agar kita bisa terus bertahan hidup," imbuhnya. "Dengan virus ini sebagai ancaman konstan (ancaman yang tak akan pergi)."
Lantas apa implikasi dari pernyataan ini? Nabarro menyebut gaya hidup yang saling berjauhan satu sama lain seperti physical distancing, atau mengarantina siapapun yang memiliki gejala COVID-19, sampai terus memastikan kapasitas rumah sakit dalam menangani pasien positif COVID-19 menjadi hal wajar. "Kondisi ini akan menjadi situasi yang normal bagi kita," tuturnya.
Kendati demikian, WHO terus mengorganisir setiap upaya produksi vaksin COVID-19. Bahkan kini WHO mengklaim sudah ada 70 jenis vaksin virus Corona yang sudah dikembangkan, dengan tiga diantaranya sudah diuji coba ke manusia.
Dilansir Time, satu vaksin diuji klinis oleh perusahaan CanSino Biologics Inc dan Beijing Institute of Biotechnology. Berdasarkan dokumen WHO, dua vaksin lainnya diujikan pada manusia oleh produsen obat Amerika Serikat Moderna Inc dan Inovio Pharmaceuticals Inc.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus sendiri menjelaskan vaksin merupakan cara paling efektif untuk mengatasi wabah virus Corona. Namun pengembangan vaksin sendiri memang memakan waktu lama, bahkan objek percobaan pertama mengaku harus terus dipantau kondisinya pasca diinjeksi vaksin sampai setidaknya musim semi tahun depan.
(wk/elva)