Pandemi Corona Bikin Banyak Orang Was-Was Rencanakan Kehamilan, Ini Alasannya
Health

Menurut Direktur Kebijakan dan Manajer Pemrograman Keadilan Reproduksi untuk kelompok Black Women for Wellness, Nourbese Flint, klinik-klinik di AS melaporkan peningkatan permintaan resep KB, begitu pula dengan penyedia obat aborsi.

WowKeren - Pandemi virus corona (Covid-19) rupanya membuat banyak keluarga di Amerika Serikat harus berpikir dua kali dalam merencanakan kehamilan. Padahal awalnya ada lelucon tentang "ledakan bayi coronavirus" yang didasarkan pada penelitian yang menunjukkan bahwa kelahiran dapat melonjak sembilan bulan setelah bencana tertentu, terutama yang mengharuskan orang untuk tinggal di dalam.

Hal ini mungkin berlaku bagi sebagian orang, salah satunya adalah Victoria Insley yang mengaku bahwa ia dan suaminya sempat menunda rencana kehamilan usai dirinya menjadi pengangguran. Namun pada bulan Maret 2020, sekitar 2 minggu setelah kebijakan social distancing diterapkan, pasutri ini memutuskan untuk mulai mencoba lagi.

Pandemi corona disebut telah membuat mereka sadar bahwa hidup ini singkat. "Kita tidak bertambah muda," ujar Victoria dilansir Vox pada Rabu (22/4).

Sayangnya, banyak orang yang justru mengambil keputusan sebaliknya. Menurut Direktur Kebijakan dan Manajer Pemrograman Keadilan Reproduksi untuk kelompok Black Women for Wellness, Nourbese Flint, klinik-klinik melaporkan peningkatan permintaan resep KB, begitu pula dengan penyedia obat aborsi.

Kebanyakan keluarga merasa was-was merencanakan kehamilan di tengah pandemi corona karena alasan ekonomi. Diketahui, jutaan warga AS dilaporkan menjadi pengangguran imbas pandemi ini dan banyak pula industri yang tutup. Hal ini membuat banyak keluarga merasakan ketidakpastian terhadap kondisi finansial mereka ke depannya.


"Orang-orang membuat keputusan jangka panjang ketika mereka merasa yakin tentang masa depan, dan mereka menunda keputusan jangka panjang ketika mereka tidak merasa yakin," ungkap profesor sosiologi di University of Maryland yang mempelajari keluarga, Philip Cohen. "Orang-orang yang menganggur atau dipekerjakan secara tidak stabil atau khawatir bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan mereka kemungkinan besar akan menundanya (kehamilan)."

Selain masalah ekonomi, aspek kesehatan juga menjadi pertimbangan untuk merencanakan kehamilan di tengah pandemi corona. Pasalnya, masih banyak pertanyaan mengenai risiko virus corona selama kehamilan.

Sebagai contoh, selagi ada kemungkinan virus corona dapat menular ke janin selama kehamilan, efeknya pada bayi yang baru lahir tampak ringan. Sementara itu, keadaan untuk para ibu yang melahirkan telah berubah secara signifikan, dengan rumah sakit di seluruh negeri membatasi pengunjung di ruang bersalin dalam beberapa bulan terakhir.

Sulit untuk memprediksi seperti apa gambaran bagi para calon orangtua sembilan bulan dari sekarang. Namun pertanyaan seputar perawatan medis hanya menambah ketidakpastian yang dihadapi orang ketika mereka berpikir untuk merencanakan kehamilan di masa pandemi corona ini.

Selain itu, kekhawatiran mengenai masa depan fasilitas penitipan anak dan sekolah juga berpengaruh. Dengan sekolah-sekolah di 50 negara bagian dan banyak fasilitas penitipan anak ditutup, orangtua dihadapkan pada posisi harus merawat anak-anak mereka di rumah, mengawasi sekolah online, sembari terus bekerja atau mencari pekerjaan.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait