Seorang relawan uji coba vaksin virus corona asal Amerika Serikat mendadak jadi sorotan. Pasalnya, Sean Doyle (31) juga sempat turut serta dalam uji coba obat ebola yang menjadi penyakit mematikan di dunia.
- Nidya Putri
- Rabu, 29 April 2020 - 13:51 WIB
WowKeren - Ilmuwan seluruh dunia tengah berpacu dengan waktu untuk menemukan vaksin virus COVID-19. Bahkan beberapa negara telah melakukan uji coba vaksinnya, seperti Tiongkok, Inggris dan Australia.
Untuk uji coba sendiri biasanya diperlukan relawan manusia yang berani dan dalam keadaan sehat. Seperti relawan di Amerika Serikat bernama Sean Doyle.
Namun, ada yang tak biasa dari Sean. Sebelumnya, pria berusia 31 tahun itu juga pernah mengikuti uji coba vaksin Ebola, salah satu penyakit paling mematikan.
Sean merupakan kandidat PhD kedokteran di Emory University. Sebagai relawan, ia diinjeksi dengan kandidat vaksin COVID-19 yang diberi nama mRNA-1273. Vaksin tersebut dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi berbasis di Massachusetts, Moderna Inc bermitra dengan National Institutes of Health.
Uji coba calon vaksin ini dinilai cukup berisiko. "Belum disetujui untuk digunakan dan apa efek sampingnya," sebut Dr Amesh Adalja dari John Hopkins University.
Sean pun menyadari itu. "Ada pembicaraan dengan teman dan keluarga. Mereka semua cemas soal mendapat vaksin eksperimen seperti ini di mana tak seorang pun tahu apa efeknya. Tapi mereka percaya padaku," cetus Sean.
Dua setengah tahun yang lalu, Sean juga ikut ambil bagian dalam percobaan imunisasi melawan virus Ebola. Pengalaman selama 18 bulan uji coba vaksin Ebola itu membuat dia jadi kandidat eksperimen Corona.
"Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana calon vaksin ini jadinya di dalam tubuh," jelasnya. "Tapi aku familiar dengan statistik tentang langkanya kemunculan reaksi berat. Jadi aku tak begitu khawatir terkena efek negatif dengan berpartisipasi di trial ini."
Sementara itu, Moderna telah mulai menguji coba calon vaksinnya ke lebih banyak orang. Mereka baru saja mendapatkan dana segar dari pemerintah AS untuk mempercepat pengembangan mRAN-1273, termasuk untuk persiapan produksi massal.
Vaksin COVID-19 ini sendiri diharapkan dapat tersedia antara 12 sampai 18 bulan dalam skenario terbaik. Apabila biasanya pengembangan vaksin membutuhkan waktu bertahun-tahun, untuk pandemi corona ini para ilmuwan ngebut agar obat bisa segera tersedia di masyarakat.
(wk/nidy)