Ribuan Orang Depresi Akibat Pandemi Corona, Mahasiswa Surabaya Bikin Aplikasi 'Curhatin'
SerbaSerbi

Aplikasi 'Curhatin' memungkinkan penggunanya untuk berkonsultasi dengan psikolog. Selain itu, pengguna juga dapat mendengarkan podcast yang membuatnya tak merasa sendirian lagi.

WowKeren - Aplikasi "Curhatin" menjadi salah satu dari 17 Ide Terbaik dalam kompetisi COVID-19 INA IDEAthon yang diadakan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) tahun 2020 ini. "Curhatin" dibuat oleh mahasiswa Institut Teknologi Surabaya (ITS) yang notabene bukan seorang psikolog, melainkan dari jurusan Teknik Informatika.

Bagas Juwono Priambodo bersama dua temannya, Ihdiannaja dan Yuki Yanuar Ratna, memiliki kepedulian terhadap isu kejiwaan, terutama di tengah situasi pandemi Corona seperti saat ini. Berdasarkan data Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, sebanyak 1.522 orang tercatat mengalami gangguan kesehatan mental atau depresi akibat pandemi COVID-19.

Aplikasi "Curhatin" diharapkan dapat membantu meredakan stres terselubung yang kerap tak disadari banyak orang. "Kita perlu imunitas tubuh yang bagus untuk bisa melewati pandemi ini. Kalau stres, mudah kesal, merasa sendiri, dan kelelahan, kan jadi bikin mudah sakit," ujar Bagas dilansir dari Kumparan.


Selain itu, aplikasi "Curhatin" nantinya dapat membuat masyarakat lebih nyaman dan tak merasa sendiri lagi meski harus menjalani karantina diri. "Yang paling utama membuat mereka tidak merasa melalui situasi ini sendiri. Karena itu nanti ada fitur podcast jadi mereka bisa saling mendengar pengalaman orang lain dan jadi kuat sama-sama," sambung Bagas.

Tak sendiri, Bagas dan kedua temannya tentu bekerja sama dengan para psikolog atau psikiater dalam menjalankan aplikasi "Curhatin". Layanan konsultasi dengan psikolog dapat dilakukan lewat pesan, telepon, atau panggilan video sesuai kebutuhan masing-masing pengguna.

Rencananya, aplikasi "Curhatin" mulai dapat diakses pada Juli-Agustus mendatang. "Sekarang masih versi Beta yang belum bisa diakses. Karena kami harus merampungkan sistemnya dulu. Kami berharap aplikasi ini bisa mempertemukan kedua pihak yang saling membutuhkan." kata mahasiswa semester 6 tersebut.

Bagas pun akan terus memastikan apabila aplikasi "Curhatin" terus bisa digunakan saat hingga usai pandemi berlalu. "Isu kesehatan mental sering terabaikan, dianggap enggak penting padahal orang dengan gangguan ini bisa berujung pada bunuh diri kalau tidak ditangani dengan benar," tandas Bagas.

(wk/nere)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!