Hal tersebut dipaparkan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini kala menerima kunjungan Menko PMK Muhadjir Effendy di rumah dinasnya pada Selasa (16/6).
- Bertilia Puteri
- Rabu, 17 Juni 2020 - 07:38 WIB
WowKeren - Jumlah kasus COVID-19 di Kota Surabaya merupakan yang tertinggi di provinsi Jawa Timur. Hingga Selasa (16/6) kemarin, Kota Surabaya telah melaporkan total 4.181 kasus positif virus corona.
Menanggapi tingginya kasus corona, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pun buka suara. Risma menyatakan bahwa kondisi tersebut terjadi akibat masifnya gelaran tes corona di Surabaya.
Menurut Risma, tes corona massal yang digelar oleh pemerintah itu meliputi rapid test dan swab test secara gratis. Risma menjelaskan bahwa tes massal tersebut sangat penting untuk mencari siapa saja yang terjangkit COVID-19.
"Jadi kita memang mencari Pak," ujar Risma kala menerima kunjungan Menko PMK Muhadjir Effendy, dilansir Antara, Selasa (16/6). "Sebab kalau tidak kita cari, orang-orang yang terkena virus itu akan tambah bahaya."
Kedua tes massal tersebut dapat dilakukan setiap hari di Surabaya lantaran ada bantuan mobil laboratorium dari Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Warga Surabaya yang dinyatakan positif COVID-19 akan langsung dirawat di rumah sakit.
"Bagi warga yang hasil tes cepat reaktif, lalu kami tes usap. Sembari menunggu hasil tes usapnya itu kami isolasi di hotel atau Asrama Haji bagi yang tidak menunjukkan gejala," ungkap Risma. "Sedangkan bagi warga yang tes usapnya positif dan sudah menunjukkan gejala, langsung kami rawat di rumah sakit."
Selain itu, Risma juga sempat menjelaskan langkah yang diambil Pemkot Surabaya usai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dihentikan. Untuk menyambut new normal, pihak Risma langsung menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 28 Tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru pada Kondisi Pandemi COVID-19.
"Dalam Perwali itu dijelaskan secara detail tentang berbagai protokol kesehatan yang harus dijalankan oleh warga Kota Surabaya," ujar Risma. Sang Wali Kota mengaku bahwa pihaknya optimis dapat memutus mata rantai penularan COVID-19 apabila Perwali 28/2020 itu diterapkan dengan baik.
Muhadjir sendiri lantas meminta agar kepala daerah lain di Indonesia belajar banyak dari kasus COVID-19 di Surabaya usai mendengar penjelasan Risma. "Suruh belajar ke sini mereka (bupati atau wali kota yang daerahnya banyak kasus COVID-19) biar tahu," pungkas Muhadjir.
(wk/Bert)