'Aib' Jatim Sampai Jadi Pusat Wabah Corona: Tes Masif Tapi RS Kurang dan Berkonflik dengan Surabaya
Instagram/dishubsurabaya
Nasional

Pakar Epidemiologi Unair, Windhu Purnomo, tak menampik bahwa laju tracing yang tinggi berdampak baik. Namun sayangnya 'pencarian' pasien ini tak diimbangi dengan perbaikan fasilitas kesehatan.

WowKeren - Saat ini Jawa Timur boleh dibilang menjadi pusat wabah virus Corona Indonesia. Pasalnya jumlah kasus positif yang terdeteksi sudah lebih dari 10 ribu kasus, nyaris menyamai DKI Jakarta namun dalam rentang waktu yang lebih singkat.

Otoritas Jatim berdalih bahwa angka ini didapat dari tingginya laju tracing dan pemeriksaan. Namun ternyata ada sisi negatif dari kebijakan Jatim ini, seperti diungkap oleh Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga, Windhu Purnomo.

Windhu menyebut tingginya deteksi tak diimbangi dengan perbaikan kualitas serta kuantitas fasilitas kesehatan di Jatim. Hal ini tentu berdampak buruk terhadap proses pengobatan pasien. Seperti misalnya rumah sakit yang kekurangan tempat tidur, ventilator, ruang perawatan bertekanan negatif, sampai tenaga kesehatan.

"Ibaratnya di hulu ini penuh, di hilir ini kebanjiran," ujar Windhu, Rabu (24/6). "Pasien gejala berat harus antre dan akhirnya meninggal tak bisa ke rumah sakit. Yang di rumah sakit justru gejalanya ringan."

Pernyataannya ini pun sesuai dengan rasio kematian di Jatim yang termasuk paling tinggi se-Indonesia. Hal ini menunjukkan banyaknya pasien COVID-19 yang tak tertangani dengan baik karena kekurangan fasilitas kesehatan.


Alhasil kini pemerintah pusat pun ikut mengintervensi penanganan Corona di Jatim. Seperti baru-baru ini Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan akan mengirimkan bantuan tenaga medis ke RSUD dr Soetomo, Surabaya demi memenuhi kebutuhan.

Di sisi lain, yang lebih memperkeruh suasana adalah perihal seringnya Pemprov Jatim dan Pemerintah Kota Surabaya cekcok. Diketahui mayoritas kasus positif di Jatim dikonfirmasi di Surabaya. Bahkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim memaparkan seberapa parahnya tingkat serangan dan laju penularan di Surabaya.

Seperti belum lama ini Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya bersilang pendapat soal data positif Corona. Lalu setelahnya kedua otoritas berkonflik kembali soal kapasitas rumah sakit rujukan.

Bahkan perbedaan pendapat tajam diantara Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ikut menjadi sorotan Windhu. Oleh karenanya Windhu mengapresiasi Presiden Joko Widodo yang hari ini, Kamis (25/6) berkunjung ke Surabaya. Kunjungan ini pun menjadi yang perdana setelah pandemi merebak.

"Kalau jalan sendiri-sendiri, hasilnya gak keruan. Peran Presiden di Jatim itu sentral, karena reagen dan alat tes bergantung pusat," pungkas Windhu.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!