Tak Lagi Kampung Padat Penduduk, Risma Sebut Tren Penularan COVID-19 Banyak Terjadi di Kawasan Elite
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Dari hasil tracing yang dilakukan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, ditemukan ada warga di kawasan perumahan mewah terinfeksi usai bepergian ke luar negeri.

WowKeren - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengungkap tren penularan COVID-19 yang banyak terjadi belakangan ini. Menurutnya, penularan banyak terjadi di kalangan masyarakat berekonomi menengah ke atas. Tak hanya itu, Risma bahkan menyebut jika 90 persen kenaikan angka COVID-19 di Kota Pahlawan berasal dari lingkungan mewah.

"Saat ini (penyebaran COVID-19) di perumahan mewah, yang dihuni masyarakat dengan ekonomi menengah atas," kata Risma, di Surabaya Rabu (1/7). "Jadi persentase kenaikan kemarin itu rata-rata menengah ke atas, 90 persen di perumahan mewah."


Ia melanjutkan jika dari hasil tracing yang dilakukan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, ditemukan ada warga di kawasan perumahan mewah terinfeksi usai bepergian ke luar negeri. Kendati demikian, Risma enggan menyebutkan kawasan elite mana yang ditemukan banyak mengalami pertambahan kasus.

Terkait kemungkinan lain yang menjadi penyebab tingginya angka penyebaran COVID-19 di kawasan perumahan elite, Risma mengatakan pihaknya masih mendalami itu. "Kemarin kita cocokkan, ada satu orang ternyata dia perjalanan dari luar negeri," katanya.

Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara menyebut jika penularan lebih banyak terjadi dalam perjalanan dari daerah lain. Hal ini berdasarkan pengakuan dari pasien. "Jadi penularannya itu banyak terjadi dalam perjalanan dari suatu daerah. Hasil tracing yang dilakukan, ada beberapa jawaban dari pasien yang bilang seperti itu," katanya.

Lebih lanjut, ia meminta agar mereka mau melakukan isolasi secara khusus. "Kalau dia OTG kami minta agar mereka bersedia diisolasi di Asrama Haji," ujarnya.

Sebelumnya, penyebaran COVID-19 di Surabaya banyak ditemukan di kawasan perkampungan padat penduduk. Namun seiring berjalannya waktu, kasus penularan di kawasan tersebut sudah berangsur menurun. Hal ini tak lepas dari upaya masyarakat untuk saling bahu-membahu melalui Kampung Tangguh Jogo Suroboyo. "Mungkin karena yang ada kampung itu (Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo) turun. Jadi dia (kasus kawasan elit) kelihatan," sebut Risma.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts