Singapura Resesi Gara-Gara Corona, Menkeu Sri Mulyani Waspadai Hal Ini
Nasional
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Sebelumnya, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah telah menjelaskan bahwa Indonesia berbeda dari Singapura yang sangat bergantung pada perdagangan internasional.

WowKeren - Singapura memasuki jurang resesi usai Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) melaporkan pertumbuhan ekonomi negara tersebut anjlok sampai 41,2 persen pada Kuartal II 2020. Karena pandemi corona di tahun 2020 ini, Singapura mengalami resesi untuk pertama kalinya sejak 2009 silam.

Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani ikut menanggapi kondisi resesi Singapura ini. Sri Mulyani menyatakan pihaknya terus mewaspadai pelemahan ekonomi global di masa pandemi corona ini.


"Untuk kita tentu kami waspadai, karena bagaimana pun juga engine of growth kita adalah konsumsi, investasi dan ekspor," terang Sri Mulyani di Kompleks Parlemen pada Rabu (15/7). "Kali ini pemerintah akan menggunakan seluruh mekanisme anggarannya untuk mensubstitusi pelemahan di sisi konsumsi, investasi maupun ekspor."

Sri Mulyani menilai Singapura memasuki jurang resesi karena negara tersebut sangat bergantung pada perdagangan internasional. Di satu sisi, Singapura mengambil kebijakan circuit break yang menghentikan seluruh kegiatan ekonominya, di sisi lain terjadi pelemahan ekonomi secara global.

"Perekonomian dari Singapura itu kan peranan dari global demand sangat besar," ungkap mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini. "Karena ekspornya lebih dari seratus persen dan ekonomi mereka kecil sehingga domestic demand tidak bisa mensubstitusi."

Sri Mulyani pun mengantisipasi agar kondisi yang sama tidak terjadi di Tanah Air. Beberapa cara di antaranya adalah dengan menggeber program-program dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan mendorong pulihnya sektor keuangan, seperti perbankan.

"Kita meluncurkan kredit yang diberikan jaminan sehingga korporasi dengan dengan dunia usaha utamanya yang kecil dan menengah bisa bangkit kembali karena itu salah satu darah dari perekonomian kita," terang Sri Mulyani. "Tentu itu juga dengan protokol kesehatan karena kalau COVID meningkat secara tidak terkendali, kita tidak mungkin lagi lakukan aktivitas ekonomi yang aman."

Sebelumnya, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah telah menjelaskan bahwa Indonesia berbeda dari Singapura karena tidak terlalu bergantung pada ekspor. Sehingga meskipun terjadi kontraksi ekonomi, ia memperkirakan tidak akan sedalam yang dialami Singapura. "Perekonomian kita lebih bergantung kepada konsumsi rumah tangga. Sementara selama wabah ini konsumsi walaupun mengalami penurunan tetapi tidak terlalu besar," ujarnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts