Utang Negara Jadi Sorotan, Sri Mulyani Sebut Masyarakat Indonesia Sensitif
Instagram/smindrawati
Nasional

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa tidak ada satu negara pun di dunia yang tidak memiliki utang lantaran pinjaman diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

WowKeren - Kritik terhadap pengelolaan utang negara Indonesia kerap berdatangan. Menanggapi kritik tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani pun buka suara.

Sri Mulyani meminta agar publik tidak memberikan stigma negatif terhadap proporsi utang Indonesia. Ia juga menyatakan bahwa tidak ada satu negara pun di dunia yang tidak memiliki utang lantaran pinjaman diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

"Kalau teman-teman yang suka pakai negara Islam. Semua negara Islam di dunia, semua berutang," ungkap Sri Mulyani dilansir Kontan pada Senin (20/7). "Mau Saudi, UAE, Qatar, Maroko, Pakistan, Afghanistan, Kazakhstan, you name it."

Menurut Sri Mulyani, utang tersebut sangat diperlukan untuk membiayai belanja pemerintah. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menjelaskan bahwa kebijakan utang dapat dikontrol dengan cara tetap menjaga rasio dengan Produk Domestik Bruto (PDB).

"Bahkan saya tahu waktu di Bank Dunia, negara Islam terutama yang di Afrika mayoritas miskin banget," ujar Sri Mulyani. "Dan mereka dapat utang, bahkan diberikan hibah."


Lebih lanjut, Sri Mulyani juga menilai bahwa masyarakat Indonesia kini masih sensitif dengan kebijakan utang. Ia mengingatkan bahwa pihak-pihak yang mau membicarakan utang harus dapat berdiskusi dan berargumen dengan sehat.

"Saya ingin menyampaikan, kadang-kadang masyarakat kita sensitif soal utang. Menurut saya, tidak bagus juga," jelas Sri Mulyani. "Karena kalau kita mau bicara tentang policy (ketentuan) utang, ya kita bisa berdebat, jangan pakai benci dan menggunakan bahasa kasar."

Adapun Indonesia disebut berutang terutama untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur. Alasan kedua adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Kalau begitu kita perlu utang? Ya utangnya untuk apa dulu," kata Sri Mulyani. "Kalau untuk membuat infrastruktur kita baik (utang produktif), supaya anak-anak bisa sekolah dan tidak menjadi generasi yang hilang, ya tidak ada masalah."

Sebagai informasi, Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri (ULN) RI sebesar USD 404,7 miliar atau setara Rp 5.922 triliun pada akhir Mei 2020. Angka ini meningkat jika dibandingkan ULN pada April 2020 yang mencapai USD 400,2 miliar.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts