Tingginya klaster virus corona yang berasal dari perumahan ini diungkapkan oleh anggota Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 28 Juli 2020 - 11:48 WIB
WowKeren - Anggota Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah, mengungkapkan bahwa kasus corona di Indonesia kini didominasi oleh klaster perumahan. Menurut Dewi, transmisi lokal di tengah masyarakat Indonesia masih tinggi.
"Kalau kita lihat analisis data klaster di seluruh indonesia, yang paling tinggi itu justru klaster perumahan. Lokal transmisi di tengah masyarakat itu tinggi sekali," jelas Dewi pada Senin (27/7). "Itu memang masih majority-nya (mayoritas) dari pasien positif yang datang ke rumah sakit adalah dari permukiman."
Dewi menduga tingginya transmisi lokal ini disebabkan oleh banyaknya orang yang tidak menyadari jika mereka terjangkit COVID-19. Orang-orang yang tidak menyadari mereka terjangkit COVID-19 tersebut lantas beraktivitas seperti biasa di lingkungan permukimannya.
"Sehingga kita lalu menemukan klaster-klaster baru di sekitar wilayah itu yang saling berdekatan," terang Dewi. Dengan demikian, peran masyarakat dalam menekan laju penularan COVID-19 menjadi sangat penting, salah satunya adalah dalam menjalankan protokol kesehatan.
"Dengan kita tetap disiplin terapkan protokol kesehatan di mana pun berada, kita bisa mencegah penularan itu," tutur Dewi. "Jaga jarak, pakai masker, rajin mencuci tangan, hindari keluar rumah tidak mendesak."
Lebih lanjut, Dewi mengungkapkan bahwa penjagaan perbatasan wilayah telah terbukti dapat menekan angka kasus COVID-19 yang berasal dari luar alias imported case. Beberapa contohnya adalah wilayah Raja Ampat, Gunung Singkawang di Kalimantan Barat dan Pasaman di Sumatera Barat yang memasuki kategori zona hijau.
"Yang kita pelajari juga di antaranya adalah satu, mereka dengan tetap menjaga perbatasan wilayah keluar masuk," ungkap Dewi. "Ini salah satunya, karena ini mungkin menghindari adanya imported cases dari luar ke dalam."
Penjagaan akses keluar masuk suatu wilayah secara ketat dinilai Dewi dapat mengantisipasi penularan virus corona. Pasalnya, orang-orang yang diketahui positif COVID-19 diharuskan menjalani proses karantina terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam suatu wilayah.
"Jadi kalau kita lihat kabupaten/kota di Indonesia secara geografis juga agak-agak jauh dengan yang lainnya," pungkas Dewi. "Sehingga ketika perbatasannya dijaga dengan baik, maka bisa jadi kasus penularan dari luar ke dalam ini dapat ditahan."
(wk/Bert)