Orang yang Pernah Kena Flu Disebut Lebih Kebal Hadapi Corona, Ini Faktanya
Health
Pandemi Virus Corona

Pakar penyakit menular dari Amerika Serikat, menemukan jika seseorang yang pernah mengalami flu memiliki kekebalan tubuh lebih baik terhadap serangan penyakit COVID-19.

WowKeren - Para ahli menemukan temuan menarik dimana seseorang yang pernah mengalami flu memiliki kekebalan tubuh lebih baik terhadap serangan penyakit COVID-19. Hal ini karena sampel yang mengandung T cell atau sel T dapat mengenali virus SARS-CoV-2 dan mempercepat respons kekebalan terhadap COVID-19.

Penelitian ini dapat menjelaskan alasan di balik kekuatan sejumlah orang yang terinfeksi SARS-C0V-2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian lain yang dirilis tahun ini yang menunjukkan bahwa antibodi yang diproduksi setelah infeksi SARS-CoV-2 akan hilang dari sistem imun.

Pakar penyakit menular dari AS, Anthony Fauci mengatakan studi baru yang tidak disebutkan jumlah sampel yang terlibat itu dapat menjelaskan mengapa beberapa orang tidak memiliki gejala COVID-19 setelah terinfeksi, sementara yang lain membutuhkan perawatan, bahkan berisiko kematian. "Salah satu hal yang menurut saya tidak terlalu ditekankan selama upaya untuk mengatasi, wabah COVID-19, serta pengembangan dan pengujian vaksin, adalah bahwa kami telah berfokus secara eksklusif pada tes antibodi," katanya.

Dikutip dari Science, Jumat (14/8), penelitian ini didanai oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) yang dipimpin Fauci selama lebih dari tiga dekade. "Jika Anda melihatnya secara metaforis sebagai pasukan dengan tingkat pertahanan yang berbeda, antibodi mencegah virus masuk. Jadi itu seperti garis pertahanan pertama. Untuk virus yang lolos dan menginfeksi beberapa sel, sel T akan membunuh sel yang terinfeksi atau memblokirnya," ujarnya.


Namun, Fauci memperingatkan bahwa sel T tidak hidup selamanya, pernyataan ini dapat menjelaskan mengapa beberapa pasien mengalami penundaan respons kekebalan terhadap infeksi. Bagi mereka yang pernah terkena flu biasa, orang-orang itu tela memiliki sel T yang memberikan tingkat perlindungan tertentu terhadap SARS-CoV-2.

"Bisa dibayangkan bahwa sel T yang Anda buat sebagai respons beberapa tahun lalu - tiga, empat, lima tahun yang lalu - saat Anda terpapar virus corona yang relatif jinak yang menyebabkan flu biasa, itu sebenarnya bisa bertahan," paparnya. "Jadi ketika Anda terkena SARS-CoV-2, mungkin memiliki tingkat perlindungan tertentu."

Sementara itu, Seorang ahli virus di Universitas Columbia, Angela Rasmussen menggunakan analogi tentara yang sama dengan Fauci agar bisa membedakan antibodi penetral dengan sel T yang dapat membunuh sel yang terinfeksi dan memulai produksi lebih banyak antibodi.

Dilansir Mcclatchydc, Rasmussen mengibaratkan antibodi sebagai pasukan pejalan kaki atau infanteri, sementara T cell adalah pasukan berkuda atau kavaleri. "Tapi temuan sel T menunjukkan bahwa, mungkin kavaleri benar-benar siap menghadapi virus ini. Mungkin mereka sudah tahu sedikit tentang cara melawannya. Dan mungkin itu membantu infanteri (antibodi) secara keseluruhan mencegah virus yang menyerang," ujar Rasmussen.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts