Oleh sebab itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD meminta masyarakat untuk tetap bekerja keras dan tidak terkejut karena resesi tidak sama dengan krisis ekonomi.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 28 Agustus 2020 - 08:30 WIB
WowKeren - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengakui bahwa Indonesia kini berada di ambang resesi. Hal ini disampaikan Mahfud dalam rapat koordinasi bersama para kepala daerah se-Indonesia pada Kamis (27/8) kemarin.
Awalnya, Mahfud menjelaskan bahwa pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2020 yang mengatur tentang penanggulangan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional atau PCPEN. Mahfud menyebut hal itu sangat penting karena masalah ekonomi hingga sosial di tengah masyarakat akibat pandemi corona bisa timbul jika Perpres tersebut tak diterbitkan.
"Dulu kita pada bulan Februari, Maret, April, Mei itu tekanannya pada penanggulangan COVID-19. Tapi sesudah itu kita tidak bisa memprediksi kapan COVID ini berakhir," jelas Mahfud. "Sementara kalau kita memilih kebijakan yang seperti itu lebih banyak bersembunyi atau mengajak masyarakat bersembunyi, menghindari COVID, kalau itu dilakukan terus, maka sebagai bangsa kita tidak produktif, ekonomi nasional macet, masalah- masalah sosial akan timbul dan itu kemudian bisa diikuti oleh masalah-masalah politik."
Kemudian, Mahfud mengungkapkan bahwa Indonesia kini berada di ambang resesi. Oleh sebab itu, Mahfud meminta masyarakat untuk tetap bekerja keras dan tidak terkejut karena resesi tidak sama dengan krisis ekonomi.
"Saudara objektif saja, dan tidak bisa disembunyikan, kita ini sedang di ambang resesi, ini yang menyebabkan kita harus bekerja keras di dalam dua cabang atau dua anak panah kebijakan pemerintah, tapi jangan terlalu kaget juga menjadi, 'wah kita ini akan resesi'," tutur mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut. "Resesi itu adalah istilah teknis dari satu situasi, resesi itu tidak sama dengan krisis, resesi itu adalah satu keadaan di mana suatu negara secara berturut-turut dalam dua kuartal pertumbuhan ekonominya minus."
Lebih lanjut, Mahfud menjelaskan perbedaan antara resesi dengan krisis. Menurut Mahfud, resesi adalah perhitungan matematis yang terjadi apabila negara dalam keadaan ekonomi minus nol dalam dua kuartal berturut-turut.
Oleh sebab itu, Mahfud mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali ekonomi sehingga Indonesia tidak mengalami krisis saat resesi. Mahfud juga menyebut ada banyak pihak yang menggunakan momen resesi sebagai serangan politik.
"Kalau tidak bisa itu, tetap seperti yang diperkirakan di bawah nol, kita hidupkan ekonomi masyarakat agar tidak terjadi krisis meski terjadi resesi. Ini penting dipahami bahwa resesi dan krisis itu beda," pungkas Mahfud. "Karena secara politik itu sudah banyak yang akan menggunakan, wah kalau nanti terjadi krisis mari kita hantam pemerintah, mari kita bikin ini bikin itu. Kalau terjadi resesi ekonomi."
(wk/Bert)