Dalam studi terbaru, peneliti menemukan bukti bahwa penggunaan non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAID) seperti ibuprofen dan diklofenak, tidak memiliki efek samping pada pasien COVID-19.
- Nidya Putri
- Sabtu, 12 September 2020 - 12:45 WIB
WowKeren - Pada awal wabah virus corona (COVID-19) melanda ke sejumlah negara di dunia. Beberapa dari negara tersebut menggunakan non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAID) untuk menyembuhkan pasien.
Sayangnya, bukannya membaik NSAID justru membuat keadaan pasien COVID-19 menjadi makin parah. Namun, studi baru yang diterbitkan minggu ini di PLOS Medicine menemukan NSAID, seperti ibuprofen dan diklofenak, tidak memiliki efek samping pada pasien COVID-19.
Sekedar informasi, NSAID merupakan obat antiradang yang biasanya digunakan untuk mengobati demam, nyeri, dan sakit. "Secara keseluruhan, risiko untuk semua hasil penelitian serupa antara pengguna dan non-pengguna ibuprofen dan NSAID lainnya," kata peneliti dilansir Fox News, Sabtu (12/9).
Para peneliti dari University of Southern Denmark, Aarhus University Hospital, dan Danish Medicines Agency, mengumpulkan data lebih dari 9.000 penduduk Denmark yang positif terinfeksi virus corona COVID-19 antara 27 Februari hingga 29 April. Mereka melihat data terkait penggunaan NSAID, rawat inap, masuk ke ICU, ventilasi mekanis, mortalitas 30 hari, dan terapi penggantian ginjal akut.
Penelitian tersebut menyebutkan, dari 9.326 orang, sebanyak 248 orang memiliki resep NSAID yang diisi dalam 30 hari setelah tes COVID-19 mereka positif. Para peneliti menyimpulkan tidak ada hubungan antara penggunaan NSAID dan hasil dari infeksi virus corona baru tersebut.
Peneliti memeriksa apakah penggunaan NSAID dikaitkan dengan mortalitas 30 hari dan hasil yang merugikan pada populasi orang positif SARS-CoV-2. "Penggunaan NSAID tidak terkait dengan peningkatan mortalitas 30 hari, sebuah temuan yang kuat dalam berbagai analisis tambahan," bunyi laporan penelitian itu.
Penggunaan NSAID juga tidak terkait dengan peningkatan risiko rawat inap, masuk ICU, ventilasi mekanis, atau terapi penggantian ginjal dalam analisis yang disesuaikan. Penelitian tersebut resmi dipublikasi pekan ini di dalam jurnal Plos Medicine.
Peneliti juga mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit. Caranya dengan memilih dua atau lebih kelompok studi berdasarkan status paparan kemudian diikuti hingga periode tertentu sehingga dapat diidentifikasi dan dihitung besarnya kejadian penyakit.
Dalam studi studi observasional, peneliti menemukan 6,3 persen dari mereka yang positif COVID-19 yang menggunakan NSAID meninggal, dibandingkan dengan 6,1 persen yang tidak menggunakan obat anti-inflamasi itu. Dalam kelompok orang yang terinfeksi COVID-19 yang menggunakan NSAID, para peneliti menemukan 24,5 persen dirawat di rumah sakit dan 4,9 persen dirawat di ICU. Sementara itu, di antara mereka yang positif SARS-CoV-2 yang tidak mengkonsumsi NSAID, 21,2 persen dirawat di rumah sakit dan 4,7 persen dirawat di ICU.
Penelitian tersebut mencatat, mempertimbangkan bukti yang ada, tidak ada alasan untuk menarik penggunaan NSAID yang diindikasikan dengan baik selama pandemi SARS-CoV-2. "Namun, efek samping NSAID yang sudah mapan, terutama efek ginjal, gastrointestinal, dan kardiovaskular, harus selalu dipertimbangkan, dan NSAID harus digunakan dalam dosis serendah mungkin dan durasi sesingkat mungkin untuk semua pasien," pungkas para peneliti.
Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) melalui situs resminya menyatakan, tidak mengetahui bukti ilmiah yang menghubungkan penggunaan NSAID, seperti ibuprofen, dengan gejala COVID-19 yang memburuk. Agensi sedang menyelidiki masalah ini lebih lanjut dan akan berkomunikasi secara publik ketika lebih banyak informasi tersedia.
(wk/nidy)