'Habib Rizieq Akan Pimpin Revolusi' Dianggap Makar, FPI Singgung Jargon Jokowi
Nasional
Kepulangan Habib Rizieq

Pernyataan Habib Rizieq akan segera pulang dan akan memimpin revolusi di Tanah Air ini pertama kali disampaikan oleh Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) KH Ahmad Shabri Lubis.

WowKeren - Cekal Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq di Arab Saudi disebut telah resmi dicabut. FPI menyatakan bahwa Habib Rizieq akan segera pulang dan siap memimpin revolusi di Tanah Air.

Namun pernyataan revolusi tersebut dinilai merupakan tindakan makar oleh Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid. "Cukuplah, jangan bertindak yang aneh. Nanti akan berhadapan lagi dengan konstitusi dan hukum. Revolusi itu makar, apalagi bila menggunakan massa dan kekerasa," ujar Jazilul pada Selasa (13/10).

FPI lantas menanggapi pernyataan Jazilul tersebut. Menurut Ketua DPP FPI Slamet Maarif, Presiden Joko Widodo juga kerap menyuarakan "revolusi" namun tidak dianggap makar. Diketahui, Jokowi memang kerap menyuarakan jargon "revolusi mental".

"Jokowi ngomong revolusi (mental) sah saja, enggak dianggap makar?" tutur Slamet pada Rabu (14/10) hari ini. "Kan bisa saja HRS (Habib Rizieq Syihab) pimpin revolusi akhlak atau revolusi sistem."


Namun demikian, Slamet tidak mau menerangkan secara rinci konsep revolusi apa yang akan dipimpin Habib Rizieq. "Ya lihat nanti dong ketika (Habib Rizieq) pulang," pungkas Slamet.

Sementara itu, pernyataan Habib Rizieq segera pulang dan akan memimpin revolusi ini pertama kali disampaikan oleh Ketua Umum FPI KH Ahmad Shabri Lubis. Partai Keadilan Bangsa (PKB) juga telah memberikan reaksi keras atas pernyataan Lubis tersebut.

Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fraksi PKB, Abdul Kadir Karding, memberikan peringatan keras terkait munculnya kabar Habib Rizieq yang akan memimpin revolusi. Pasalnya, revolusi dinilai merupakan sikap menyatakan perang dengan pemerintahan dan seluruh rakyat Indonesia.

Namun, Karding menambahkan jika revolusi yang dimaksud merupakan perubahan dengan cara damai, maka tentunya tidak akan ada masalah. "Bahwa kemudian ingin memimpin revolusi, kalau yang dimaksud revolusi dalam artian perubahan mendasar dengan cara-cara damai, saya kira ke arah yang baik silakan, nggak ada masalah," papar Karding.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts