Peneliti dari King's College London menemukan keterkaitan antara Long Covid, alias kondisi ketika pasien sembuh masih merasakan gejala infeksi virus Corona, dengan kerusakan paru-paru.
- Elvariza Opita
- Kamis, 05 November 2020 - 15:17 WIB
WowKeren - Ada satu dampak jangka panjang yang menghantui pasien sembuh COVID-19. Adalah kondisi yang disebut sebagai Long Covid. Kondisi ini adalah ketika pasien sembuh COVID-19 masih merasakan berbagai gejala meski sudah negatif infeksi virus Corona.
Baru-baru ini peneliti berhasil menemukan alasan di balik terjadinya Long Covid ini. Rupanya hal ini diakibatkan oleh kerusakan paru-paru yang terus-menerus dan ekstensif dalam banyak kasus.
"Penemuan ini menunjukkan bahwa COVID-19 bukan hanya penyakit yang disebabkan oleh kematian sel yang terinfeksi virus," jelas Profesor Mauro Giacca dari King's College London. "Tetapi kemungkinan merupakan konsekuensi dari sel-sel abnormal yang bertahan lama di dalam paru-paru."
Tim peneliti yang dipimpin Prof Giacca menganalisis sampel jaringan paru-paru, jantung, hati, dan ginjal dari 41 pasien yang meninggal akibat COVID-19 di Rumah Sakit Universitas Trieste Italia antara Februari sampai April 2020. Dan hasilnya, tim peneliti tidak menemukan adanya tanda-tanda infeksi virus atau peradangan berkepanjangan di organ lain.
Namun hal berbeda ditemui pada organ paru-paru yang mengalami kerusakan sangat besar. Bahkan hampir seluruh jaringan di paru-paru rusak serta penuh bekas luka.
"Bahkan jika seseorang sembuh dari COVID-19, kerusakan yang ditimbulkan bisa sangat besar," ungkap Giacca, dikutip dari Reuters, Kamis (5/11). Salah satu bentuk kerusakannya adalah pembekuan darah yang ekstensif di arteri serta vena paru-paru.
Karakteristik unik lainnya adalah beberapa sel paru-paru berukuran besar secara tidak normal dan memiliki banyak inti. Ini hasil dari fusi sel yang berbeda menjadi sel-sel tunggal yang besar dalam proses yang dikenal sebagai syncytia.
"Kehadiran sel yang terinfeksi ini dapat menyebabkan perubahan struktural utama yang diamati di paru-paru," pungkas Giacca. "Yang dapat bertahan selama beberapa minggu atau bulan dan akhirnya dapat menjelaskan Long Covid."
Sebelumnya King's College London ternyata sudah meneliti tentang Long Covid. Dan terungkap bahwa gejala panjang virus Corona ini lebih riskan dialami oleh pasien perempuan ketimbang laki-laki.
(wk/elva)