Peneliti dari Australia menemukan peningkatan risiko pada pasien dengan riwayat COVID-19 yang juga mengonsumsi kontrasepsi hormonal alias pil KB. Begini penjelasan selengkapnya.
- Elvariza Opita
- Selasa, 10 November 2020 - 14:51 WIB
WowKeren - Berbagai penelitian soal COVID-19 terus digelar, termasuk meneliti hal apa saja yang berisiko meningkatkan keparahan penyakit. Dan baru-baru ini terungkap tingkat keparahan COVID-19 bisa makin buruk kalau sang pasien mengonsumsi pil KB alias kontrasepsi estrogen.
Dilansir dari pedoman baru oleh Royal Australian College of General Practicioners (RACGP), ada efek yang timbul dari obat kontrasepsi hormonal. Menurut para ahli, COVID-19 bisa meningkatkan risiko pembekuan darah, sebuah efek yang sama yang timbul dari penggunaan kontrasepsi hormonal.
Dikutip dari ABC News, sebagian besar perempuan yang didiagnosis COVID-19 umumnya mengalami sakit yang cenderung ringan. Tingkat kematian pada pasien COVID-19 perempuan umumnya rendah.
Namun situasinya berbeda jika dihadapkan dengan kadar hormon estrogen di dalam tubuh. Sebab hormon seks itu berisiko meningkatkan komplikasi terhadap infeksi virus Corona.
Kendati demikian, manusia dengan kadar hormon estrogen yang alami diproduksi tubuh semestinya baik-baik saja. Pedoman dari RACGP tadi dikhususkan bagi mereka yang pernah terinfeksi COVID-19 dan menggunakan kontrasepsi hormonal.
"Ini adalah nasihat peringatan," terang Ketua Kelompok Minat Khusus RACGP terhadap pengobatan kesehatan seksual. "Untuk menyadari bahwa seseorang mungkin berisiko tinggi mengalami pembekuan darah jika mereka mengalami infeksi (COVID-19) parah ini."
Saat ini para peneliti tengah melihat dampak jangka panjang dari COVID-19, umumnya bagi mereka yang memiliki peningkatan risiko pembekuan darah. Kendati demikian belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan pembekuan darah terkait COVID-19 pada wanita yang juga menggunakan kontrasepsi hormonal atau wanita hamil.
"Sekitar dua hingga empat orang dari sepuluh ribu orang selama setahun mungkin mengalami pembekuan darah. Untuk orang yang menggunakan pil, risikonya mungkin sekitar dua kali lipat," beber Moten, dilansir pada Selasa (10/11).
Risikonya tergantung pada jenis pil atau obat kontrasepsi hormonal yang dikonsumsi, serta dosis estrogen dan progesteron yang diberikan. Umumnya yang sangat riskan mengalami risiko ini adalah pasien COVID-19 dengan tingkat gejala yang parah, sehingga tidak ada alasan bagi OTG Corona berjenis kelamin perempuan yang hendak menggunakan kontrasepsi hormonal.
(wk/elva)