'Double Kill' Suplemen Vitamin D: Tekan Risiko Kanker dan Lawan COVID-19
pixabay.com
Health
Pandemi Virus Corona

Peneliti menemukan vitamin D berdampak positif dalam upaya penyembuhan kanker, terutama di fase metastasis. Selain itu vitamin D juga membantu melawan COVID-19.

WowKeren - Vitamin menjadi salah satu suplemen yang dikonsumsi demi memelihara kesehatan tubuh, terutama di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini. Namun biasanya masyarakat mengonsumsi vitamin C dan E untuk memelihara daya tahan tubuh.

Tetapi hasil penelitian yang baru-baru ini dirilis malah mengungkap vitamin lain yang memiliki manfaat tidak kalah luar biasa. Bahkan vitamin ini bak senjata "double kill" karena bereaksi terhadap dua penyakit sekaligus, yakni kanker dan COVID-19. Seperti apakah?

Penelitian terbaru menemukan bahwa vitamin D bisa membantu mengurangi risiko kanker stadium lanjut sampai 17 persen. Selain itu, risiko kematian akibat kanker juga bisa berkurang jika secara rutin mengonsumsi vitamin D.

Hasil studi oleh ilmuwan Universitas Harvard ini kemudian dipublikasikan di jurnal medis JAMA Network Open. Vitamin D ditemukan mampu menghentikan fase metastasis kanker, fase agresif sel-sel tumor menyebar ke bagian lain tubuh.


"Temuan kami, terutama penurunan risiko yang kuat yang terlihat pada individu dengan berat badan normal," jelas Dr Paulette Chandler, seorang ahli epidemiologi di Rumah Sakit Wanita dan Brigham Harvard di Boston. "Memberikan informasi baru tentang hubungan antara vitamin D dan kanker stadium lanjut."

Selain itu, hasil penelitian juga mengungkap peran efektif vitamin D dalam melindungi seseorang dari COVID-19. Sebab dalam penelitian yang diterbitkan oleh dokter di PGIMER, suplemen vitamin D rupanya bisa mencapai negativitas SARS-CoV-2 RNA di antara pasien COVID-19.

Vitamin D terbukti memiliki efek imunomodulator dan dapat mengurangi kerentanan dan keparahan infeksi virus. Hasil ini didasarkan pada studi yang dilakukan terhadap 40 pasien COVID-19 positif tidak bergejala atau gejala ringan serta kekurangan vitamin D.

Pasien yang membutuhkan ventilasi invasif atau dengan komorbiditas yang signifikan tidak termasuk dalam penelitian. Studi tersebut menyimpulkan bahwa suplemen vitamin D dosis tinggi membantu mencapai negatif RNA SARS-CoV-2 pada sebagian besar peserta.

"Negatifitas SARS-CoV-2 RNA oleh suplementasi cholecalciferol (vitamin D) dapat membantu mengurangi tingkat penularan infeksi SARS-CoV-2 yang sangat menular," kesimpulan para peneliti. Jadi, bagaimana, tertarik menambahkan vitamin D dalam asupan suplemen harian?

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts