Peneliti di laboratorium Bio Safety Level-2 Universitas Padjadjaran Bandung, Savira Ekawardhani, mengungkapkan timnya harus kembali bekerja seperti masa awal pandemi usai terjadi lonjakan kasus.
- Bertilia Puteri
- Senin, 07 Desember 2020 - 14:36 WIB
WowKeren - Petugas laboratorium pemeriksa sampel COVID-19 rupanya jarang mendapat libur selama sembilan bulan masa pandemi. Terlebih saat terjadi penambahan kasus COVID-19 harian.
"Kalau saat ini kami semua yang kerja sejak Maret itu sudah mulai lelah," ungkap peneliti di laboratorium Bio Safety Level-2 Universitas Padjadjaran Bandung, Savira Ekawardhani, dilansir Tempo pada Senin (7/12). Diketahui, laboratorium tersebut turut memeriksa COVID-19 dari sampel pasien rumah sakit yang diisolasi dan tenaga kesehatan sejak 15 Maret 2020.
Dalam sehari, jumlah sampel yang diperiksa berkisar 100-500, dengan rata-rata 200-300 sampel. Terdapat 30 orang yang bekerja di laboratorium tersebut, baik secara penuh maupun paruh waktu.
Petugas di laboratorium tersebut bekerja di kantor setiap hari hingga nyaris tak libur pada awal pandemi corona. Namun di pertengahan tahun, para petugas laboratorium sudah mulai bisa beristirahat di akhir pekan. Sayangnya, mereka kini harus kembali bekerja seperti masa awal pandemi karena terjadi lonjakan kasus COVID-19.
"Kami lebih kesal melihat orang-orang yang tidak taat protokol kesehatan," tutur Savira. "Itu menambah pekerjaan yang tidak perlu."
Menurut Savira, sejauh ini tim di laboratorium masih bekerja dengan solid dan saling menjaga diri. Berdasarkan hasil tes swab internal, para petugas laboratorium juga masih terhindar dari infeksi COVID-19.
Meski demikian, Savira mengkhawatirkan burnout atau kelelahan mental pada timnya. "Prediksinya akhir tahun ini sudah cukup rendah angkanya, ternyata sekarang malah naik lagi," ujar Savira.
Oleh sebab itu, Savira meminta masyarakat untuk terus mematuhi protokol kesehatan dan tidak berkerumun. "Bayangkan petugas harus menyiapkan hasil uji lab untuk orang-orang yang kritis, mau operasi, amputasi jadi lama keluarnya karena sampel orang tanpa gejala yang banyak," pungkas Savira.
Sementara itu, jumlah kasus COVID-19 harian di Jawa Barat belakangan ini mengalami lonjakan. Melansir Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 (Pikobar), kasus harian Jabar masih berada di kisaran 700-800 kasus pada 30 November 2020 hingga 2 Desember 2020. Namun pada 3 Desember, kasus harian Jabar melonjak menjadi 1.648 kasus dan berada di kisaran 1.000 hingga 6 Desember 2020 (kecuali 4 Desember 2020 yang melaporkan 992 kasus COVID-19 harian).
(wk/Bert)