Delirium disebut-sebut menjadi gelaja baru virus corona yang patut dipahami. Kenali lebih lanjut tanda-tanda seseorang mengalami delirium, hingga penyebab dan cara pengobatan gejala baru COVID-19 ini.
- Ruth Meliana
- Selasa, 15 Desember 2020 - 12:04 WIB
WowKeren - Delirium disebut-sebut menjadi gejala baru virus corona yang patut diwaspadai. Pembahasan mengenai delirium terus bermunculan dan menjadi perdebatan setelah muncul infografik yang tersebar di media sosial mengenai gejala baru COVID-19. Infografik itu turut mencatut nama Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan COVID-19.
Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito sendiri telah membantah informasi dalam infografik delirium itu berasal dari pihaknya. "Sedang dicari siapa yang membuat info itu. Bukan kami," kata Wiku seperti dilansir dari Antara News, Kamis (10/12) lalu.
Meski bukan berasal dari Satgas COVID-19, namun gejala delirium sendiri memang dipastikan ada. Berdasarkan studi yang dilansir Science Daily, delirium merupakan salah satu gejala baru virus corona yang ditemukan pada pasien COVID-19 yang sudah tua.
Dilansir dari Halodoc, delirium adalah gangguan serius pada kemampuan mental yang mengakibatkan pasien mengalami penurunan kesadaran yang bersifat akut dan fluktuatif. Tanda-tandanya adalah pengidap delirium akan mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.
Gejala awal delirium biasanya berkembang cepat dalam beberapa jam atau beberapa hari. Delirium seringkali dapat dilacak ke satu atau lebih faktor yang berkontribusi, seperti penyakit yang parah atau kronis, perubahan keseimbangan metabolik (seperti natrium rendah), pengobatan, infeksi, pembedahan, atau keracunan.
GEJALA DELIRIUM
Gejala delirium sering berfluktuasi sepanjang hari dan terkadang ada periode tanpa gejala. Gejala delirium cenderung menjadi lebih buruk pada malam hari saat gelap dan segala sesuatunya tampak kurang familiar.
Dilansir dari Tirto, berikut merupakan gejala-gejala delirium pada pasien virus corona yang patut diwaspadai:
1. Kurangnya kesadaran lingkungan yang memicu:
2. Keterampilan berpikir yang buruk (gangguan kognitif), seperti:
3. Perubahan perilaku, termasuk
4. Gangguan emosional yang mungkin terjadi:
PENYEBAB DELIRIUM
Dilansir dari Mayo Clinic, delirium kemungkinan besar disebabkan kombinasi faktor-faktor yang membuat otak rentan dan memicu terjadinya malfungsi pada aktivitas otak. Delirium dapat disebabkan oleh satu atau beberapa penyebab, seperti kombinasi kondisi medis dan toksisitas obat.
Kendati demikian, terkadang tidak ada penyebab pasti yang dapat diidentifikasi. Berikut merupakan sejumlah penyebab yang dapat berpotensi menyebabkan delirium:
PENGOBATAN DELIRIUM
Pasien yang mengalami gejala-gejala delirium dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan untuk memastikan diagnosis. Dokter kemudian mendiagnosis penyebab delirium dengan melakukan wawancara medis dengan keluarga pengidap yang memahami perjalanan gejala. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis, memeriksakan kondisi kejiwaan, serta melakukan pemeriksaan penunjang.
Diantaranya adalah pemeriksaan urine atau darah untuk menilai fungsi hati, kadar alkohol tiroid, paparan zat NAPZA, atau alkohol. Selain itu, pasien juga akan diperiksa CT scan, MRI, atau elektroensefalogram (EEG) untuk menilai kondisi otak. Rontgen dada untuk melihat adanya infeksi pada paru hingga analisis cairan serebrospinal untuk mengetahui adanya infeksi otak juga dilakukan.
Adapun pengobatan untuk mengatasi delirium dapat dilakukan dengan menjaga pengidap agar tidak mengalami kecelakaan selama perawatan karena kesadarannya yang menurun. Pengobatan juga dilakukan dengan menangani penyebab dari delirium, seperti penurunan kadar gula darah dan infeksi. Terakhir, dokter juga akan berusaha mencegah komplikasi yang dapat timbul selanjutnya, seperti gangguan buang air besar, buang air kecil, atau imobilisasi.
(wk/lian)