Menkeu Sri Mulyani Bocorkan 'Bisikan' Menparekraf Sandiaga Uno Saat Di Bali
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengisi sebuah acara sarasehan di Bali pada Jumat (9/4). Pada acara tersebut, Sri Mulyani mendapatkan 'bisikan' dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno.

WowKeren - Pada Jumat (9/4), Menteri Keuangan Sri Mulyani bertandang ke Bali untuk menghadiri acara "Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional". Acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Gubernur Bank Indonesia Perry Warijo, dan Ketua Komisi IX DPR RI Dito Ganinduto.

Saat mengisi acara tersebut, Sri Mulyani mengaku mendapat "bisikan" dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno. Lantas Sri Mulyani membocorkan "bisikan" tersebut yang ternyata adalah permintaan Sandiaga agar sektor industri pariwisata bisa cepat dibuka.

Mendengar permintaan tersebut, Sri Mulyani mengaku sampai saat ini masih belum bisa untuk mengabulkannya. Hal itu dikarenakan Sri Mulyani bersama dengan pemerintahan masih fokus untuk berjuang melawan pandemi COVID-19.

Sri Mulyani khawatir jika mengabulkan permintaan Sandiaga Uno soal membuka sektor industri pariwisata dapat memicu kenaikan kasus COVID-19. "Tadi Pak Sandi berbisik ke saya, kalau kita mencoba untuk mendorong demand, yaitu bagaimana berwisata, tapi kita tahu ada pilihan sulit karena takut COVID-19 menyebar," ungkap Sri Mulyani dalam acara sarasehan yang disiarkan secara virtual.


Sri Mulyani mengatakan bahwa mobilitas masyarakat termasuk berwisata dalam satu tahun terakhir mengalami peningkatan. Jika mobilitas masyarakat meningkat, maka dapat dipastikan angka kasus COVID-19 juga mengikuti. Alhasil, pemerintah mengambil kebijakan untuk membatasi mobilitas masyarakat Indonesia.

Meski demikian, Sri Mulyani menyampaikan bahwa pemerintah sampai saat ini masih terus berfikir untuk mendorong mobilitas dan konsumsi tanpa menyebabkan angka COVID-19 meningkat. Sri Mulyani mengungkapkan bahwa adanya kebijakan membatasi mobilitas masyarakat juga mempengaruhi sektor industri pariwisata yang mengakibatkan penurunan ekonomi.

"Indonesia sudah response policy mulai awal Januari 2020," ungkap Sri Mulyani. "Bali, Sulawesi, Yogya yang jadi tempat turis langsung kena sejak awal tahun, karena turis dari RRT langsung di stop, sehingga langsung mengalami penurunan ekonomi, terutama untuk destinasi wisata."

Oleh karenanya, pemerintah kini sedang mempersiapkan stimulus pariwisata, salah satunya dalam bentuk hibah pariwisata dan belanja melalui kementerian/lembaga terkait. Dana hibah untuk sektor pariwisata telah dipersiapkan sebesar Rp 3,3 triliun.

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts