Rugi triliunan rupiah yang dialami Indonesia menyebabkan APBN 2020 defisit hingga 6,1 persen terhadap PDB. Angka ini tak pernah tersentuh dalam 20 tahun terakhir.
- Elvariza Opita
- Kamis, 20 Mei 2021 - 16:06 WIB
WowKeren - Pandemi COVID-19 memang bukan cuma membuat porak-poranda sistem kesehatan tetapi juga aspek-aspek lain termasuk perekonomian. Baik di tingkat global maupun Indonesia sendiri sangat terdampak oleh pandemi ini.
Bahkan pada 2020 lalu Indonesia rupanya mengalami defisit alias kerugian sampai Rp1.356 triliun akibat wabah COVID-19. Hal ini sebagaimana diungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Rapat Paripurna DPR RI.
Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia terdampak cukup parah tahun lalu. Ekonomi domestik sampai terkontraksi 2,1 persen alias lebih rendah dari semula sebelum pandemi yang menargetkan pencapaian pertumbuhan positif 5,3 persen.
"Berarti secara nominal perekonomian Indonesia kehilangan kesempatan untuk menciptakan nilai tambah," tutur Sri Mulyani, Kamis (20/5). "Atau mengalami kerugian dalam kurang lebih sebesar Rp1.356 triliun."
Karena itulah, APBN 2020 sudah bekerja dengan sangat luar biasa dalam menopang dan melindungi perkeonomian Indonesia di tengah dahsyatnya hantaman pandemi COVID-19. Situasi ini tentu saja secara berimbas positif terhadap terjaganya kesejahteraan masyarakat.
Bukan cuma itu, Sri Mulyani juga menerangkan bahwa belanja negara mengalami peningkatan 12,3 persen dan mencapai Rp2.593,5 triliun. Sedangkan pendapatan negara mengalami penurunan sampai minus 16 persen.
"Karena aktivitas dunia usaha yang terpukul sangat dalam di satu sisi," jelas Sri Mulyani. "Dan di sisi lain pemerintah memberikan berbagai insentif perpajakan untuk menolong dunia usaha agar mampu bertahan dan bahkan diharapkan dapat bangkit kembali."
Selain itu, sang mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia juga mengungkap defisit APBN 2020 mencapai 6,1 persen terhadap PDB Indonesia. Tingkat defisit ini jauh melonjak dibandingkan sebelumnya, bahkan tidak pernah mencapai titik ini dalam 20 tahun terakhir.
"Yang tadinya direncanakan hanya sebesar 1,76 persen dari PDB," papar Sri Mulyani. "Di mana primary balance hampir mendekati balance atau nol rupiah."
Semua situasi ini, tutur Sri Mulyani, adalah efek krisis akibat pandemi COVID-19. Karena itulah diperlukan langkah-langkah countercylical, sebagaimana yang telah coba dilakukan pemerintah, agar efek yang ditimbulkan tidak semakin parah.
(wk/elva)