Lukman Sardi Beber Perubahan Sifat Usai 'Diburu' Media Atas Perceraian Orangtua Semasa Kecil
Instagram/lukmansrd
Selebriti

Lukman Sardi membagikan pengalaman masa kecilnya. Meski sudah akrab dengan sorotan, Lukman Sardi mengungkap perubahan dirinya usai menjadi kejaran media atas kasus perceraian orangtua.

WowKeren - Lukman Sardi baru-baru ini berbicara terbuka tentang masa kecilnya sebagai seorang anak seniman terkenal Idris Sardi. Pemeran "Sang Pencerah" itu membicarakan masa kecilnya saat menjadi bintang tamu di akun YouTube Daniel Mananta dalam segmen "Daniel Tetangga Kamu".

Pada vlog yang diunggah Senin (26/7), Lukman Sardi menyebutkan bahwa hubungannya dengan sang ayah termasuk suam-suam kuku. Artinya, ia tidak seberapa dekat dengan ayah namun bukan berarti jauh darinya. Namun situasi yang menurutnya normal itu memburuk setelah kedua orangtuanya bercerai saat dirinya masih kecil.

"Situasi mulai nggak enak saat bokap nyokap gue cerai. Itu gue kelas 4 SD. Itu lumayan... justru menurut gue masa kecil yang paling impactful itu pada saat itu. Umur 4 SD, tiba-tiba bokap gue harus cerai. Di masa itu tuh, even belum ada infotainment tuh wartawan lumayan gencar juga," terang Lukman Sardi.

Akibatnya, Lukman Sardi kecil harus kejar-kejaran dengan wartawan yang menunggunya sepulang sekolah atau di depan rumah demi mendapat berita tentang perceraian orangtuanya. Ia mengaku harus menunggu depan sekolah sepi dulu sebelum pulang untuk menghindar dari "buruan" media. Bahkan ia sempat bersembunyi karena saat pulang sekolah gang depan rumahnya sudah ditunggui wartawan.


"Itu lumayan impactful, jadi ada perkembangan yang gue tadi orangnya ekspresif terus jadi lebih ke dalem. Jadi kayak everything's tuh kayak... karena gue ngeliat temen gue main. Gue nggak bisa main," ungkap Lukman Sardi.

Dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan, Lukman Sardi mengaku bahwa dirinya mengalami perubahan sifat karena menyalahkan keadaan. Tekanan dari media dan perceraian kedua orangtua membuatnya tumbuh menjadi sosok yang mandiri serta tidak bergantung pada orang lain.

"Terus ada lu main berapa lama kayak terkungkung, kayak anak umur 4 SD yang lagi maunya main atau apa tiba-tiba ada di situasi kayak gitu. Dan itu ngebentuk gue jadi orang yang tempramental dan emosional. Dan orang yang sangat percaya bahwa apapun bisa gue lakuin sendiri tanpa orang lain," tutupnya.

(wk/inta)

You can share this post!

Related Posts