Pawang Hujan adalah salah satu profesi yang masih dipercaya oleh masyarakat Tanah Air untuk mengendalikan, menghentikan bahkan memanggil hujan. Berikut penjelasan menarik terkait pawang hujan yang telah diulas WowKeren.
- Mar 21, 2022
WowKeren - Ekistensi pawang hujan sendiri dapat diteluri dari tradisi sejumlah daerah. Dalam cerita rakyat Betawi contohnya. Masyarakat mempercayai adanya sepasang dewa-dewi yang dikenal sebagai nenek dan aki Bontot. Nenek dan aki Bontot disebutkan dulunya pernah mengajari manusia untuk mengenali tanda-tanda alam dan memperkenalkan ilmu gaib.
Dari cerita itulah kemudian rakyat Betawi mempercayai adanya pawang hujan. Hal tersebut turut dibenarkan oleh budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra. Ia menjelaskan bahwa pawang hujan di Betawi akrab disebut sebagai dukun pengkeng. Dukun pengkeng biasanya akan dipanggil untuk menyukseskan acara penting seperi hajatan atau karnaval dengan cara memindahkan hujan ke suatu tempat.
"Yang begini sudah muncul jauh-jauh hari. Zaman Hindu-Budha, zaman sebelum Islam. Jadi sudah cukup tua ilmu perdukunan ini," kata Yahya. "Dia mempunyai kewajiban juga untuk menyukseskan acara resepsi itu dengan cara membaca rapal-rapal untuk mengalihkan, memindahkan hujan ke lain tempat."
Lainnya halnya dengan Betawi, masyarat Jawa biasanya lebih mempercayai pawang hujan berdasarkan primbon. Dari primbon tersebut ditemukan berbagai cara atau tradisi untuk mengendalikan hujan. Hal itu didukung oleh penjelasan budayawan Jawa Prapto Yuwono. Prapto mencontohkan beberapa cara yang tertulis di primbon Jawa itu salah satunya adalah kepercayaan bahwa melemparkan celana dalam perempuan di atas genteng dapat menolak hujan. Selain itu, juga ada tradisi menusuk cabai dan bawang untuk kemudian dilemparkan di atas genteng pula.
"Kalau orang Jawa itu bukan orang atau dukun, tetapi dia lihat primbon," kata Prapto Yuwono. "Termasuk yang dilemparkan ke atas genteng itu sebenarnya sajen juga."
Disamping itu orang Jawa juga mengenal orang-orang pintar yang dianggap bisa memindahkan hujan. Mereka adalah para sesepuh yang dimintai doa oleh orang-orang yang memiliki hajatan dan acara tertentu. Prapto menyebut para sesepuh biasanya dipercaya memiliki mantra dan doa untuk mempengaruhi alam.
"Karena dia punya mantra, punya doa. Kalau orang semacam itu khas kesaktiannya itu dari apa yang diucapkan dia itu punya pengaruh kepada alam," jelas Prapto.
Sementara di Bali, pawang hujan dikenal dengan istilah Nerang Hujan. Biasanya prosesi nerang hujan akan dilakukan sebelum acara-acara besar dimulai. Pawang hujan di Bali umumnya menggunakan berbagai macam sajen. Orang yang dipercaya dapat mengendalikan hujan itu kemudian akan membacakan mantra guna meminta dewa menghentikan atau mendatangkan hujan.
Tak hanya di Indonesia, pawang hujan juga dikenal di luar negeri. Seperti cerita Mbah Gofur Purnomo, seorang pawang hujan legendaris asal Surabaya. Ia menceritakan bahwa selama 3 dekade dirinya sudah banyak mengatur cuaca dalam acara besar seperti sepak bola dan lainnya. Bukan hanya di pulau jawa, ia juga sudah dikenal hingga luar pulau bahkan negeri seperti Sumatera, Papua, Malaysia, India, Maladewa dan acara pantai di Amerika Serikat
(wk/Sisi)