Padusan adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Lantas, apa makna tradisi tersebut dan bagaimana perkembangannya saat ini?
- Mar 29, 2022
WowKeren - Tradisi padusan mengalami sejumlah perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Di masa lalu, tradisi ini dilakukan di kolam-kolam masjid maupun sumber mata air yang telah ditentukan oleh pihak keraton. Para pria akan memasuki kolam dan berendam di sana, sedangkan wanita melakukan ritual ini secara terpisah di tempat lain.
Padusan mengalami pergeseran budaya sejak tahun 1950. Kala itu tradisi ini tak hanya dimaknai sebagai pembersihan fisik, namun cenderung mengarah pada pembersihan rohani. Akibatnya, masyarakat tak lagi mendatangi kolam-kolam masjid untuk melakukan ritual tersebut.
Perubahan yang terjadi di tahun selanjutnya terbilang lebih drastis. Sebab pria dan wanita berbaur menjadi satu di pemandian umum untuk melakukan ritual tersebut. Beberapa orang bahkan mengenakan pakaian yang jauh lebih ketat daripada sebelumnya.
Pergeseran budaya ini cukup berdampak pada sejumlah hal. Salah satunya adalah kemunculan beberapa objek wisata padusan yang dapat digunakan untuk melakukan ritual tersebut beramai-ramai.
Pada tahun 2019, ada sepuluh lokasi di Yogyakarta yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk menjalani padusan. Di antaranya adalah Umbul Pajangan, Sendang Klangkapan hingga Sendang Ngepas Lor.
Sedangkan di wilayah Jawa Tengah, masyarakat biasa mendatangi Umbul Manten, Obyek Mata Air Cokro (OMAC), Umbul Ponggok dan masih banyak lagi. Khusus untuk padusan di OMAC biasanya dilakukan secara simbolik oleh Bupati Klaten yang melakukan siraman terhadap Mbak dan Mas Klaten (Duta Pariwisata di sana), yang kemudian dilanjutkan oleh warga.
(wk/eval)