Adapun tiga negara yang walkout adalah Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Inggris dalam pertemuan G20 di Washington. Terkait hal ini, Menku RI Sri Mulyani pun angkat bicara.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 21 April 2022 - 10:28 WIB
WowKeren - Dalam pertemuan G20 di Washington, DC, pada Rabu (20/4), diketahui tiga pejabat tinggi dari negara Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris telah walkout alias keluar. Adapun tindakan ini dilakukan disebut sebagai aksi protes atas serangan Rusia ke Ukraina.
Menanggapi peristiwa tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani pun lantas angkat bicara. Sri Mulyani pun menerangkan bahwa pertemuan tersebut dihadiri oleh negara-negara G20, termasuk Ukraina dan organisasi internasional, serta regional.
Sri Mulyani pun tak menapik bahwa pertemuan G20 itu diselenggarakan dalam situasi yang menantang yakni di tengah masih panasnya tensi geopolitik Rusia dan Ukraina, yang juga berdampak terhadap negara-negara di luar Eropa. Ia pun mengatakan banyak anggota yang mengungkapkan keprihatinan mendalam tentang krisis kemanusiaan, dampak ekonomi dan keuangan dari perang.
"Menyerukan diakhirinya perang sesegera mungkin, banyak anggota mengutuk perang sebagai tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan, dan pelanggaran hukum internasional," papar Sri Mulyani dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (21/4).
Momen ketiga negara tersebut walkout adalah pada saat delegasi Rusia berbicara dalam pertemuan G20 di Washington. Terkait hal ini, Sri Mulyani menerangkan bahwa selama sesi konsultasi dan komunikasi sebelum pertemuan ini, Indonesia sebagai Presidensi G20 2022 memahami bahwa beberapa skenario bagaimana reaksi negara G7 akan merespons tentang apa yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina.
Sri Mulyani mengklaim bahwa walkout yang dilakukan oleh tiga negara itu tidak sama sekali mengganggu rangkaian acara. Ia menilai hal tersebut sebagai hal yang wajar dalam menyampaikan pendapat.
"Jadi dalam hal ini tidak terlalu mengejutkan kita semua, terutama bagi kita sebagai ketua, dan menurut saya hal itu tidak menimbulkan masalah dalam pembahasan kita, yang juga berkaitan dengan substansi itu sendiri," beber Sri Mulyani.
Di samping itu, Sri Mulyani menyampaikan bahwa perkembangan situasi global semakin memburuk dan berubah dengan sangat cepat sejak Indonesia menjadi tuan rumah di pertemuan pertama Menkeu dan Gubernur Bank Sentral G20 pada Februari lalu.
Kemudian, kata Sri Mulyani, kondisi global juga diperparah oleh perang Rusia dan Ukraina yang diperkirakan masih sangat dinamis, bahkan telah berimplikasi pada kenaikan harga komoditas yang sangat tinggi. Oleh karena itu, Indonesia yang memegang Presidensi G20 tahun 2022 ini harus terus berkomunikasi dan berkonsultasi dengan seluruh negara anggota.
(wk/tiar)