Ardhito Pramono kembali di industri musik dengan mengeluarkan lagu baru berjudul 'Wijayakusuma'. Ternyata, Ardhito mengaku sempat kesulitan untuk menyanyikan lagu tersebut.
- Dessy Novitasari
- Jumat, 08 Juli 2022 - 16:51 WIB
WowKeren - Ardhito Pramono sempat menjadi sorotan usai ditangkap polisi terkait kasus penyalahgunaan narkoba. Meski begitu, Ardhito Pramono berusaha bangkit dari masa kelamnya tersebut.
Penyanyi tampan itu bangkit dan kembali ke industri musik dengan merilis lagu terbaru berjudul "Wijayakusuma". Lagu tersebut diproduseri oleh Gusti Irwan Wibowo dan ditulis bersama Narpati Awangga alias Oomleo.
Awalnya, Ardhito Pramono menciptakan "Wijayakusuma" sejak awal 2021. Kala itu, ia menjadi saksi penggusuran kawasan asri di Canggu, Bali. Penggusuran itu terjadi demi vila yang akan dibangun oleh warga negara asing.
Ardhito Pramono pun ingin mengkritik peristiwa tersebut lewat sebuah lagu. Namun, Oomleo membalas kritik Ardhito, sebab karya-karyanya yang minim sentuhan Indonesia. Ardhito pun menggeser perspektif idenya dan melahirkan "Wijayakusuma", tembang pop Indonesia yang bercerita seputar eksistensial diri.
Selain itu, Ardhito Pramono mengaku sempat kesulitan saat membuat "Wijayakusuma". Awalnya, lagu tersebut tidak bisa direkam oleh Ardhito. Bukan tanpa sebab, Ardhito mengaku tidak mengetahui cara untuk menyanyikannya.
"Di-take pertama, Oomleo merasa gue tidak nyaman dan terengah-engah. Jadi yang sudah dalam versi lagunya, itu setelah melalui take ke-100 sekian," ungkap Ardhito dalam keterangannya pada Kamis (7/7).
Pria berusia 27 tahun ini kemudian mengaplikasikan metode satu kali rekam. Hal itu bertujuan untuk menuai esensi olah vokal yang maksimal dalam situasi terbatas, seperti periode rekaman menggunakan pita.
"Gue memang mencoba balik ke zaman dulu untuk proses A sampai Z-nya," ucap Ardhito Pramono. "Meski sudah banyak teknologi yang mendukung, metode yang gue gunakan masih bersemangat lawas."
"Meski sudah tersedia jasa orkestrasi yang lebih praktikal di Budapest, gue lebih memilih untuk merekamnya di Indonesia, dengan pemain-pemain dari Indonesia, dan beberapa alat rekamnya pun asli dari Indonesia," pungkas Ardhito Pramono.
(wk/dess)