Lusi berbicara panjang lebar tentang masalah kesehatan mentalnya selama bertahun-tahun. Dimulai pada 2019, sang aktris mulai mengalami gejala depresi. Pada 2021, ia mencari pengobatan.
- Farida Amalia Dwi Yanti
- Kamis, 02 Januari 2025 - 12:48 WIB
WowKeren - Aktris Tiongkok Zhao Lusi terus menjadi perhatian publik atas kondisi kesehatan dan dugaan mengalami kekerasan yang dilakukan agensinya. Pada 1 Januari, sang aktris perdana buka suara tentang kondisi miris yang dialaminya imbas depresi selama bertahun-tahun.
Lusi berbicara panjang lebar tentang masalah kesehatan mentalnya selama bertahun-tahun. Dimulai pada 2019, sang aktris mulai mengalami gejala depresi dan pada tahun 2021, mencari pengobatan setelah kecemasannya terwujud dalam gejala fisik.
"Pada tahun 2019, aku mulai mengalami gejala depresi. Orang-orang berkata, 'Jangan membesar-besarkannya,' atau 'Berpikirlah positif, dan semuanya akan baik-baik saja.' Kupikir aku terlalu sensitif dan tidak menganggap serius kesehatan mentalku," ujarnya.
"Pada tahun 2021, aku mulai merasa seperti ada serangga merayapi tubuhku, disertai sensasi seperti ditusuk jarum dan alergi. Bahkan setelah minum obat dan disuntik, gejalanya tidak membaik. Aku akhirnya mencari psikolog untuk membantu mengelola kecemasanku," imbuhnya.
Pada 2023, Lusi mengungkap menghadapi pneumonia, emfisema, pityriasis rosea, gatal-gatal, keringat malam, terbangun tiba-tiba, dan tuli saraf. "Aku juga menghadapi kematian orang yang aku cintai dan beberapa diagnosis kanker dalam keluarga, semuanya dalam waktu yang singkat. Namun, besarnya peristiwa itu menutupi emosiku, dan aku terus mengabaikannya," curhatnya.
Baru pada tahun 2024, Lusi mulai mengalami gejala fisik yang parah seperti sering muntah-muntah, pusing, nyeri sendi, dan alergi yang memburuk. "Aku berasumsi bahwa ini adalah efek samping normal dari obat alergi yang ditargetkan," imbuhnya.
Lusi juga memperingatkan tentang asumsi yang terbentuk sebelumnya tentang penyakit itu, sambil berharap ia bisa menyebarkan kesadaran. "Aku tidak pernah menyebutkan penyakitku secara terbuka sebelumnya karena tidak ingin penyakit ini dicap sebagai 'aksi publisitas'. Namun, mengingat keadaan saat ini, aku berharap ini dapat meningkatkan kesadaran," kuaknya.
"Merasa tertekan dapat menjadi emosi, tetapi depresi sebagai penyakit adalah kondisi medis. Hal ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan berpikir positif atau membicarakannya. Bagi mereka yang memiliki perasaan yang sama denganku tentang dipahami dengan sungguh-sungguh, apakah orang lain mengerti atau tidak, itu tidak lagi penting," sambungnya.
Lusi juga mengungkapkan diagnosis resminya tentang Gangguan Disosiatif dengan Kecemasan dalam surat pernyataan keluar dari rumah sakit, bersama dengan rencana perawatan, yang tampaknya mencakup terapi, konseling, dan pengobatan.
Menurut Mayo Clinic, gangguan disosiatif adalah kondisi kesehatan mental yang melibatkan pengalaman kehilangan hubungan antara pikiran, ingatan, perasaan, lingkungan, perilaku, dan identitas dan bisa disebabkan oleh trauma.
Dokumen ini juga mencakup diagnosis malnutrisi. Dalam unggahan lainnya, Lusi mengungkapkan bahwa berat badannya pernah turun hingga hanya 36,7 KG, tetapi berat badannya bertambah berkat bantuan orang tuanya. Bagaimana menurutmu?
(wk/amal)