Aldy Riva dan Alexander Nicholi perkenalkan Anodyne, teknologi IT canggih untuk Indonesia.
- Jumat, 24 April 2026 - 13:35 WIB
WowKeren - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi di Indonesia, dua pemuda asal Amerika Serikat, Aldy Riva dan Alexander Nicholi, telah meluncurkan inovasi terbaru mereka, Anodyne. Teknologi ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, terutama pelajar, mahasiswa, dan pekerja kantoran.
Aldy Riva, yang merupakan putra dari artis Anggia Novita, menjelaskan bahwa produk ini diharapkan dapat menarik perhatian konsumen yang menyukai barang-barang dengan merek internasional yang diproduksi di dalam negeri. "Saat ini masyarakat Indonesia menyukai produk-produk luar negeri yang made in Indonesia, meskipun produk dari Indonesia tapi brand ternamanya dari AS," ungkapnya saat konferensi pers di Cafe Sam's Strawberry, Kemang, Jakarta Selatan.
Keduanya berencana mendirikan perusahaan di Indonesia yang akan beroperasi di bawah naungan PT. Anodyne atau PT. Atalantis. Mereka memiliki rencana untuk menggandeng Kementerian Pertahanan dalam pengembangan perusahaan yang berbasis di AS sambil memanfaatkan tenaga kerja lokal. "Kita sudah ada penawaran untuk menggandeng Kemenhan dengan mendirikan perusahaan yang berbasis di AS namun menggunakan tenaga kerja di sini," papar Aldy.
Anodyne sendiri merupakan perangkat lunak dengan tingkat keamanan tinggi yang berfokus pada perlindungan data pribadi di komputer dan laptop. Aldy juga menjelaskan bahwa mereka telah merencanakan proyek ini selama lima tahun ke depan, dari tahun 2026 hingga 2029, dengan kantor pusat yang akan berlokasi di kawasan Halim Perdana Kusumah, Jakarta Timur, dan pabrik di Majalengka.
Mereka percaya bahwa produk Anodyne akan menjadi salah satu yang terlaris di dunia, mengingat keunggulan dan kecepatan yang ditawarkan dibandingkan teknologi yang ada saat ini. "Alat yang khusus diproduksi di kantor pusat AS itu memiliki daya baterai yang kuat, tahan lama, tingkat keerorannya rendah dan desain yang cukup simpel," tambah Aldy.
Untuk melaksanakan rencana ini, mereka memperkirakan akan membutuhkan dana sekitar Rp800 miliar. "Semua produknya dibuat di sini termasuk tenaga kerja, terkait teknologi keamanan dikerjakan di sana. Rencananya perusahaan AS ini akan membuat chipnya di Taiwan, tapi semua barang-barangnya casing, konektor, dan lainnya dari Indonesia," tegasnya.
Produk Anodyne tidak hanya ditujukan untuk masyarakat umum, tetapi juga akan dipasarkan untuk perangkat kenegaraan di sektor teknologi IT. Aldy menegaskan, "Kalau TNI atau kelembagaan negara lain menggunakan perangkat komputer atau laptop kita yang canggih, berarti kita kan bangga banget, baik dari segi keunggulan, teorinya, bentuknya hingga komponen lainnya."
Mulai tahun ini, Aldy dan Alexander akan memulai kerjasama mereka dengan membangun kantor dan menyusun komposisi komisaris, tenaga ahli, serta program operasional yang diperlukan. "Kita akan fokus di komputer, bukan di alutsita berat seperti rudal dan sebagainya," kata Aldy.
Alexander Nicholi, yang akrab disapa Alex, menambahkan bahwa perusahaannya akan mengusung teknologi canggih dengan perangkat lunak yang berbasis Windows XP dari AS. "Saya sudah biasa berkutat dengan komputer dari umur 12 tahun hingga saat ini," ungkapnya.
Alex juga menjelaskan bahwa alasan dia berinvestasi di Indonesia adalah karena pangsa pasarnya yang menjanjikan dan biaya produksi yang lebih murah dibandingkan di negara asalnya. "Selain membuka lapangan kerja, kita juga akan menyerap tenaga ahli dari sini, nanti disesuaikan semua dengan peraturan yang ada dari pemerintah Indonesia," pungkasnya.
(wk/timw)