Korea Cyber Sexual Violence Response Center membela BJ Juice Seyeon, tapi justru mendapat backlash.
- Sabtu, 25 April 2026 - 11:33 WIB
WowKeren - Kontroversi yang melibatkan BJ Juice Seyeon, nama asli In Seyeon, semakin memanas setelah Korea Cyber Sexual Violence Response Center mengeluarkan pernyataan yang membela sang influencer. Pernyataan ini muncul setelah Juice Seyeon dicopot sebagai model dari merek kosmetik akibat reaksi negatif dari publik. Namun, upaya tersebut malah menimbulkan kemarahan di kalangan pendukung organisasi tersebut.
Korea Cyber Sexual Violence Response Center, yang merupakan organisasi swasta yang memberikan dukungan kepada korban kekerasan seksual secara daring, seharusnya berperan dalam meredakan situasi ini. Namun, pernyataan yang dikeluarkan justru memicu reaksi keras dari beberapa pendukungnya sendiri. Banyak yang merasa bahwa langkah ini tidak sensitif terhadap konteks dan pengalaman para korban kekerasan seksual yang lebih luas.
Sebelumnya, Juice Seyeon mendapatkan sorotan tajam dari publik setelah beberapa video dan konten kontroversialnya tersebar di media sosial. Ia dituduh melakukan tindakan yang dianggap tidak pantas, yang berujung pada pencopotan posisinya sebagai model merek kosmetik. Masyarakat pun mengekspresikan ketidakpuasan mereka melalui berbagai platform, termasuk media sosial, yang menyebabkan merek tersebut mengambil tindakan cepat.
“Kami mendukung semua korban kekerasan seksual, namun kami juga percaya pada pentingnya kebebasan berekspresi dan hak setiap individu,” bunyi pernyataan dari Korea Cyber Sexual Violence Response Center. Pernyataan ini, yang seharusnya mendukung, malah dianggap tidak peka oleh sebagian besar penggemar dan aktivis yang merasa bahwa situasi ini terlalu kompleks untuk disederhanakan.
Akibatnya, banyak pendukung organisasi tersebut mulai menyuarakan ketidakpuasan mereka, baik di media sosial maupun dalam bentuk petisi. Mereka meminta agar organisasi tersebut lebih berhati-hati dalam pernyataannya dan mempertimbangkan dampaknya terhadap para korban yang sedang berjuang. “Kami tidak bisa membela orang yang jelas-jelas telah melanggar batas,” ungkap salah satu pendukung dalam sebuah postingan.
Kontroversi ini menunjukkan bagaimana dunia hiburan, terutama di era digital, bisa sangat rentan terhadap kritik dan reaksi publik. Pihak-pihak yang terlibat kini menghadapi tantangan besar dalam menavigasi masalah sosial yang sensitif ini. Banyak yang berharap agar perdebatan ini dapat membawa kesadaran lebih dalam soal kekerasan seksual di dunia maya dan dampaknya terhadap individu.
(wk/timw)