Woo Hyerim Ungkap Tekanan Penampilan Selama Karier Idola di EBS
Instagram/Woo Hyerim/Instagram
Selebriti

Woo Hyerim, mantan anggota Wonder Girls, berbagi pengalaman tekanan penampilan di EBS.

WowKeren - Pada episode mendatang program EBS 'Parents’ First Sex Education' yang tayang pada 25 Mei 2026, Woo Hyerim, mantan anggota grup legendaris Wonder Girls, akan membahas pengalaman tekanan penampilan yang dialaminya selama karier sebagai idola. Episode ini berfokus pada bagaimana anak-anak mulai merasa cemas mengenai penampilan mereka sejak usia yang semakin muda.

Dalam episode tersebut, tema yang diangkat adalah seputar standar kecantikan yang terdistorsi yang sering kali menjadi beban bagi banyak anak. Istilah-istilah seperti 'stick skinny', 'pro-ana', dan 'meokto' menjadi sorotan, menggambarkan dampak negatif dari ekspektasi fisik yang tidak realistis terhadap harga diri dan persepsi tubuh anak-anak. Para ahli di acara ini juga mengingatkan tentang pentingnya peran orang tua dalam berkomunikasi dengan anak-anak agar mereka dapat menerima diri mereka apa adanya, terutama di tengah masyarakat yang sering kali menilai penampilan.

Selama siaran, anak-anak sekolah dasar dengan terbuka mengungkapkan pemikiran mereka mengenai penampilan. Meskipun mereka awalnya mengekspresikan diri dengan percaya diri melalui tarian dan akting, suasana berubah saat pembicaraan beralih ke penampilan. Mereka membawa barang-barang yang mencerminkan ketidakamanan mereka, seperti timbangan berat badan, produk makeup, dan suplemen tinggi, sembari berbicara tentang upaya untuk memenuhi standar seperti 'tubuh lebih ramping', 'wajah sempurna', dan 'tinggi badan lebih'. Para ahli memperingatkan bahwa stres yang berkaitan dengan penampilan dapat menyebabkan kebencian terhadap diri sendiri dan rendahnya harga diri.


Tim acara sangat terkejut mengetahui bahwa istilah-istilah seperti 'stick skinny' dan 'meokto' sudah digunakan secara santai di kalangan anak-anak sekolah dasar. Seorang ahli menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap standar kecantikan tertentu melalui algoritma media sosial dapat menciptakan citra tubuh yang terdistorsi. Mereka juga menekankan bahwa obsesi berlebihan terhadap penampilan dapat berujung pada anoreksia, gangguan makan, depresi, dan penarikan diri dari sosial, sehingga penting bagi orang tua untuk mengamati dan berkomunikasi dengan anak-anak mereka dengan hati-hati.

Acara tersebut juga menampilkan eksperimen di mana filter kecantikan diterapkan pada wajah anggota cast. Meskipun penggunaan filter kecantikan sudah umum bahkan di kalangan orang dewasa, para ahli menjelaskan bahwa hal ini dapat menciptakan masalah tersendiri bagi anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan emosional dan mental. Mereka mencatat bahwa kebiasaan menggunakan penampilan yang sudah difilter dapat menyebabkan anak-anak merasa terputus dari wajah asli mereka dan, dalam kasus yang parah, dapat berkontribusi pada depresi atau gangguan dismorfik tubuh.

Anak-anak juga dengan terbuka mengungkapkan kekhawatiran mereka mengenai penampilan dan perjuangan dengan harga diri. Anggota cast menyatakan keterkejutan mereka atas seberapa awal kecemasan mengenai penampilan mulai muncul. Salah satu ahli menjelaskan bahwa ketika anak-anak bertanya, "Apakah saya cantik?", itu sering kali bukan sekadar konfirmasi sederhana mengenai penampilan mereka, melainkan ketakutan yang lebih dalam tentang nilai diri mereka, pada dasarnya menanyakan, "Bisakah saya dicintai apa adanya?".

Melalui episode ini, acara tersebut menekankan pentingnya menerima 'diri sendiri apa adanya' daripada mencapai penampilan yang sempurna. Dengan berbagi pengalaman evaluasi penampilan dan budaya perbandingan yang dialaminya sebagai idola, Woo Hyerim menyatakan, "Apa yang lebih penting daripada penampilan adalah sikap menerima diri sendiri apa adanya."

(wk/timw)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!