Widyawati mengungkapkan perjalanan emosionalnya setelah kehilangan Sophan Sophiaan.
- Minggu, 21 Juni 2026 - 16:32 WIB
WowKeren - Aktris Widyawati baru-baru ini membuka suara mengenai perjuangannya untuk menerima kenyataan pahit setelah suaminya, aktor Sophan Sophiaan, meninggal dunia. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan bahwa meskipun mudah untuk mengucapkan kata 'ikhlas', kenyataannya sangat sulit untuk dijalani.
"Sulit. Orang cuma 'kamu ikhlas ya.' Iya, di mulut, di sini (hati) enggak," ungkap Widyawati saat berbincang di MIR Production. Ia menceritakan bagaimana perasaannya saat itu, yang terlihat tenang di luar namun sebenarnya merasakan kemarahan dan kesedihan yang mendalam.
Widyawati mengaku bahwa setelah kehilangan Sophan, ia menjadi pribadi yang mudah marah dan tersinggung. "Parah, mukul, barang di depan saya, saya buang," kenangnya dengan nada penuh emosi. Ia bahkan menambahkan, "Nanti kalau saya pengin teriak, saya ambil bantal (untuk teriak), karena itu ngeluarin juga kan." Perasaan marah ini berlangsung cukup lama hingga ada saudara yang menyarankannya untuk menemui psikiater.
"Lama saya tidak menerima keadaan itu, saya marah, marah pada keadaan. Sampai saya ke psikiater," jelas Widyawati. Psikiater yang menanganinya sudah mengenal Widyawati, dan memberikan motivasi untuk bangkit dari keterpurukan. "Dia bilang 'Mana matanya Widya yang dulu, ayok, kamu harus bangkit,'" ujarnya.
Dalam sesi terapi tersebut, Widyawati diizinkan untuk meluapkan emosinya. "Dia kasih saya masuk ke ruangan, teriak, sampai saya tuh nangis yang sejadi-jadinya. Dokter sempat (tanya) 'kenapa daritadi bilang benci?' Ya benci sama keadaan ini, enggak bisa terima saya, enggak bisa sebenarnya," tuturnya, menggambarkan betapa beratnya proses penyembuhan itu.
Melihat kondisi Widyawati yang tak kunjung membaik, psikiater menyarankan untuk kembali kontrol. Namun, karena kesibukannya, ia belum sempat melakukannya lagi. Widyawati kemudian mengalami momen krisis kesehatan yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit. "Akhirnya satu titik di mana saya sakit, masuk rumah sakit. Saya lihat orang-orang sibuk, anak-anak nemenin saya, gantian, akhirnya saya gini 'saya harus ikhlas, saya harus sembuh, saya harus bangun,'" tuturnya.
Dalam prosesnya, Widyawati menemukan momen spiritual yang membantunya untuk melepaskan rasa sakit dan kemarahan. "Saya lagi shalat, bicara (dengan Tuhan), akhirnya mendapat satu kayak 'tek' ikhlas. (Itu butuh) proses," imbuhnya, menegaskan betapa pentingnya perjalanan ini baginya.
Sejak saat itu, Widyawati memilih untuk menjalani hidup dengan keikhlasan dan keyakinan bahwa tidak ada yang benar-benar menjadi miliknya di dunia ini. Perjalanan emosionalnya ini menjadi inspirasi bagi banyak orang yang mengalami kehilangan serupa, menunjukkan bahwa meskipun jalan menuju penerimaan itu sulit, ada harapan dan kekuatan untuk bangkit kembali.
(wk/timw)