Para musisi Indonesia khawatir keputusan penghentian sementara itu akan berimbas besar pada industri RBT.
- Tim WowKeren
- Selasa, 18 Oktober 2011 - 09:00 WIB
WowKeren - Saat ini para musisi Indonesia dibuat khawatir dengan keputusan BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) yang akan menghentikan sementara pesan/SMS premium. Mereka mengkhawatirkan industri RBT (ring back tone) akan terkena imbasnya. Padahal industri ini menjadi 80% penghasilan industri musik Indonesia.
Untuk itu, Giring Ganesha Nidji, Pasha Ungu, Piyu Padi dan artis lainnya sekaligus perwakilan ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) menyambangi Komisi I DPR untuk mengungkap kekhawatiran mereka. Di sana, mereka bertemu langsung dengan Mahfud Siddiq selaku Ketua Komisi I DPR.
"Mereka mengeluhkan rencana meng-unreg semua layanan content provider bisa merugikan para musisi," kata Mahfud. "Mereka menganggapnya tidak dalam kategori yang bermasalah."
Mahfud mengaku mendukung langkah BRTI untuk menghentikan sementara layanan SMS premium untuk mengatur ulang semua program, membuat aturan, serta menata content provider yang bermasalah dan tidak, per 18 Oktober. Pihaknya beserta BRTI menemukan content provider yang bekerja sama dengan operator sejak pertama kali orang membeli pulsa prabayar.
Giring mengaku lega setelah bertemu Komisi I DPR yang diwakili anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya. Menurut Giring, rasa lega tersebut karena Komisi I DPR juga mendukung musisi Indonesia yang tak ingin mematikan industri RBT.
"Ketemu Komisi I, kami sedikit lega setelah Komisi I mendukung kami juga. Ini kan (penghentian SMS premium) kayak nembak nyamuk pakai meriam," kata Giring. "Padahal kami jujur, industri musiknya jujur. Kami harap lebih detail ke content provider yang nakal. Tapi, kaminya tidak kena."
(wk/)