Maskapai AirAsia diketahui baru mengambil laporan cuaca dari BMKG 30 menit setelah pesawat airbus QZ8501 hilang.
- Tim WowKeren
- Sabtu, 03 Januari 2015 - 09:16 WIB
WowKeren - Fakta baru mengenai jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata belum lama ini terungkap. Pesawat yang "disetir" Kapten Irianto (53) itu rupanya tidak dibriefing dan baru mengambil data cuaca dari Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setelah pesawatnya hilang dari radar.
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan melakukan sidak ke sejumlah kantor operasional maskapai penerbangan di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Jumat (2/1). Dari sidak itu diketahui bahwa maskapai AirAsia ternyata baru mengambil laporan cuaca dari BMKG Juanda Surabaya, pukul 07.00 WIB atau sekira 30 menit usai pesawat QZ8501 hilang kontak dari radar.
"Menurut kepala BMKG, pihak AirAsia tidak mengambil data cuaca sebelum terbang. Seharusnya ada briefing kepada pilot yang hendak terbang," jelas Staf Khusus Menteri Perhubungan, Hadi M Djuraid. "Tentang manifest, bahan bakar dan termasuk kondisi cuaca di bandara keberangkatan, perjalanan, dan bandara yang akan dituju. Briefing fisik agar terjadi komunikasi. AirAsia tidak selalu melakukan hal tersebut (briefing)."
Hal itu sebenarnya melanggar prosedur penerbangan. Dalam prosedur awal sebelum terbang, seharusnya pilot sudah mengambil laporan BMKG dan memahaminya. Setelah itu, pilot harus selalu diberikan briefing oleh Flight Operation Officer (FOO).
Untuk mengantisipasi hal buruk yang terjadi pada AirAsia QZ8501 terulang lagi, Kementerian Perhubungan akan menerbitkan surat edaran yang mewajibkan seluruh maskapai melakukan briefing awal sebelum penerbangan. Maskapai yang tidak menjalankan prosedur keamanan tersebut akan diberi sanksi tegas.
"Nanti akan kami terbitkan edaran resminya," kata Hadi. "Jadi seluruh pilot wajib ada briefing secara fisik (langsung) dengan FOO atau pilot senior sebelum penerbangan."
(wk/)