Dua insiden serius tahun di Mekah memperlihatkan kurang baiknya pengelolaan acara tahunan yang diikuti puluhan ribu umat Islam di seluruh dunia ini.
- Tim WowKeren
- Jumat, 25 September 2015 - 12:28 WIB
WowKeren - Musibah di Mina yang menewaskan lebih dari 700 nyawa pada Kamis (24/9) membuat perhatian Pemerintah Arab Saudi terhadap keselamatan jemaah haji dipertanyakan. Meski miliar dolar AS diiventasikan untuk perbaikan, tragedi terburuk dalam 25 tahun terakhir itu tetap terjadi.
Insiden di Mina yang melukai lebih dari 800 orang tersebut juga bukan satu-satunya kecelakaan yang terjadi tahun ini. 11 September lalu, sebuah crane jatuh dan menewaskan 107 orang serta melukai 400 orang.
Dua insiden serius itu memperlihatkan kurang baiknya pengelolaan acara tahunan yang diikuti puluhan ribu umat Islam di seluruh dunia ini. Irfan al-Alawi, seorang pengecam keras pembangunan kembali di sejumlah tempat suci di Saudi, menyatakan pemerintah setempat kurang memperhatikan masalah pengendalian massa dan strategi pembangunan.
"Betul bahwa mereka sudah mencoba untuk meningkatkan fasilitas, tetapi prioritas untuk kesehatan dan keselamatan selalu gagal saat pembangunan menjadi prioritas," ujar Alawi yang merupakan salah satu pendiri Islamic Heritage Research Foundation. "Ini persoalan manajemen."
Sementara itu, Iran jelas menuding kesalahan Pemerintah Arab Saudi yang dinilai "salah urus" dan kurang memperhatikan keselamatan jemaah. "Tidak ada penjelasan lain. Para pejabat Saudi harus bertanggung jawab," tambah Kepala Organisasi Haji Iran, Kata Ohadi, kepada televisi Pemerintah Iran.
Sementara itu, Pemerintah Arab Saudi sendiri sebelumnya telah mengatakan bahwa pihaknya mengerahkan 100 ribu polisi untuk mengamankan upacara haji tahun ini. Namun menurut Alawi, para petugas itu seperti tidak memiliki cukup pengalaman.
"Mereka tidak tahu cara menangani banyak orang," ujar Alawi. Belum lagi, para polisi dinilai tidak memiliki keterampilan bahasa asing yang cukup.
Sebagai informasi, Jembatan Jamarat yang digunakan untuk lempar jumrah sendiri memiliki panjang satu kilometer. Jembatan bisa menampung setidaknya 300 ribu jemaah sedangkan ritual memerlukan waktu satu jam. "Mereka harus punya sebuah sistem pengendalian massa terkait berapa banyak orang yang bisa masuk dan berapa banyak bisa keluar," tambahnya.
(wk/)