Pesawat Etihad memasuki area turbulensi udara saat melintasi wilayah udara sekitar pulau Sumatera bagian selatan.
- Tim WowKeren
- Senin, 09 Mei 2016 - 09:56 WIB
WowKeren - Peristiwa terguncangnya pesawat Etihad yang hendak mendarat di Bandara Soekarno Hatta pada Rabu (04/05) cukup membuat publik gempar. Pesawat dengan nomor penerbangan EY -474 rute Abu Dhabi-Jakarta itu mengalami turbulensi hebat jelang 45 menit mendarat di Jakarta. BMKG kini menjelaskan penyebabnya.
Para penumpang yang sebagian besar jemaah umrah tersebut ada yang sedang makan siang dan ada yang ingin menunaikan salat saat itu. Namun badan pesawat yang tiba-tiba berguncang hebat membuat penumpang yang tidak memakai seat belt (sabuk pengaman) terlempar ke langit-langit pesawat dan mengalami luka-luka. Sebanyak 32 penumpang beserta awak pesawat terluka dan sembilan di antaranya beserta seorang awak pesawat mengalami cedera.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa Etihad Airways EY-474 diterjang turbulensi tingkat 3 atau level severe (parah). Patut diketahui, skala intensitas turbulensi sampai level 4 yang terparah yaitu membuat pesawat terlempar dan sangat mustahil untuk bisa dikendalikan. Sedangkan dalam level 3 ditandai pesawat akan mengalami perubahan ketinggian dan arah yang drastis sehingga bisa lepas kendali selama beberapa saat.
BMKG menyebutkan bahwa Etihad Airways EY-474 diguncang oleh turbulensi di wilayah udara sekitar pulau Sumatera bagian selatan, di ketinggian 37.000 kaki (11.277 meter) di atas permukaan laut. "Diindikasikan turbulensi tingkat severe/parah ini kombinasi dari gelombang dekat Pegunungan Bukit Barisan di Sumatera bagian selatan dan Awan CB (Cumulonimbus) di sekitar jalur penerbangan EY-474," tulis BMKG seperti yang dilansir dari Kompas, Minggu (8/5).
Pantauan satelit cuaca menunjukkan penumpukan uap air akibat gelombang dari gunung yang terdorong secara vertikal. Selain itu, awan CB pada daerah sekitar jalur penerbangan memicu interaksi yang menyebabkan gelombang tersebut pecah pada lapisan atas atmosfer. Hal ini berujung pada turbulensi yang diperkirakan terjadi pada jalur jelajah Etihad Airways EY-474.
Sedangkan dari jenisnya, turbulensi Etihad Airways EY-474 termasuk kategori Clear Air Turbulence (turbulensi cuaca cerah) yang sulit dideteksi secara visual maupun oleh radar cuaca. CAT sering terjadi di area Tropopause, ruang udara antara Troposphere dan Stratosphere yang berada di ketinggian antara 23.000-39.000 kaki (7.000-12.000 meter di atas permukaan laut). Simak juga video detik-detik menegangkan saat Etihad EY -474 alami turbulensi di sini.
(wk/)