Beginilah penjelasan kedatangan supermoon yang dikaitkan sebagai pertanda bencana.
- Tim WowKeren
- Senin, 14 November 2016 - 15:51 WIB
WowKeren - Senin (14/10), supermoon terbesar akan hadir menghiasi langit. Ukuran bulan yang tidak biasa itu hanya pernah terjadi pada 70 tahun lalu. Hal tersebut memunculkan beragam asumsi dan pendapat, salah satunya tentang supermoon yang menjadi pertanda sebuah bencana.
Asumsi tersebut bukannya tanpa alasan, pasalnya peristiwa itu bertepatan dengan bulan purnama. Posisi bulan saat itu sangat dekat dengan bumi (disebut juga dengan perigee). Hal ini kemudian dikaitkan dengan kejadian pada November 1948.
Saat itu bertepatan satu bulan setelah didirikannya negara Israel. Peristiwa ini lalu dikaitkan pula dengan pemugaran Gereja Suci di Yerusalem yang kemudian diyakini sebagai makam Yesus. Hal tersebut membuat masyarakat berspekulasi bahwa supermoon merupakan ramalan akhir zaman yang ada dalam kitab.
Namun terlepas dari hal tersebut, National Aeronautics and Space Administration (NASA) menjelaskan bahwa supermoon merupakan fenomena langit biasa. Hanya saja karena posisi bulan sangat dekat dengan bumi hal ini akan berpengaruh pada pasang surut air laut.
Sejumlah peneliti bahkan menyampaikan supermoon hanya berefek kecil bagi bumi. Supermoon mengakibatkan terjadinya pasang naik yang sangat tinggi. Hal tersebut disebabkan karena gaya gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari. Selain itu, juga akan terjadi pasang surut terendah yang dialami bumi. Jadi, supermoon malam nanti belum tepat apabila dikaitkan sebagai pemicu bencana alam.
Kabar gembiranya, masyarakat Indonesia dapat mengamati kenampakan bulan dengan ukuran terbesar ini. Peristiwa itu tepat terjadi kira-kira pukul 20:52 WIB. Jika melewatkan supermoon kali ini, maka supermoon selanjutnya baru bisa dilihat kembali pada tahun 2034.
(wk/)